han in lal rasa banahi moya
baked pamena no sabatena yau e…
ana bawat i nib gahia
i taha boya do hama wai e…
Kegetiran hidupnya menginpirasi Loela untuk membuat lagu. “Ana Bawat” bercerita tentang derita anak yatim yang hidup serba susah. Lagu pertama ini diciptakan saat dirinya kelas dua SMA. “Ana Bawat” juga untuk mengenang kegigihan Eya. Kegigihan yang mencambuk Loela muda untuk keluar dari belenggu kesulitan hidup. Ia bertekad jadi penyanyi. Darah seni mengalir dari kedua orang tuanya yang sering bermain gambus di kampung tiap ada kenduri. Anehnya, di antara delapan bersaudara, hanya Loela yang suka bernyanyi. Ia kerap juara tiap lomba nyanyi merayakan kemerdekaan Indonesia digelar di sekolahnya. Bakatnya terbentuk secara alami. Ia belajar musik secara otodidak. Tak heran ketika hendak pamit merintis karir sebagai penyanyi, Eya tak merestui pilihannya.
Tapi keinginan Loela tak bisa dibendung. Usai lulus SMA, Eya tak kuasa menahan langkah puteranya. Loela ingat betul momen sebelum kakinya menapaki perahu yang membawa dirinya ke kapal yang berlabuh, Eya memberi dua petuah penting. Jangan mencuri sesulit apapun hidup yang mesti dijalani dan jangan pulang ke kampung kalau gagal jadi penyanyi. Loela menceritakan ini dengan tatapan nanar, ada kesedihan yang mengantung. Tak hanya petuah itu, Eya ternyata menyerahkan segepok uang. Enampuluh ribu di penghujung dekade tujuhpuluhan adalah jumlah yang terbilang besar. Loela sempat menolak tapi netra tulus Eya membuat hatinya luluh.”Darimana uang ini Eya?, tanya Loela. “Mama jual mesin jahit” kata Eya.









