Loloda, Ngara Mabeno yang Terlupakan

oleh -722 views

Oleh: Ahmad Ibrahim, Jurnalis Senior

Itulah judul sebuah buku yang bercerita seputar sejarah moyang masa lalu pada sebuah kampung nun di Kepulauan Pulau Doi, Kecamatan Loloda Utara, Provinsi Maluku Utara.

Buku ini juga memuat lembaran nasab (silsilah) mereka yang menjadi pegangan yang ditulis oleh seorang ulama besar penyiar agama di Loloda Kepulauan di Maluku Utara yakni Alhabib Muhammad Bin Abdurrahman Bin Hasyim Albaar Dagasuli 150 tahun lalu itu.

Silsilah ini telah terangkum dalam buku yang ditulis oleh ayah saya almarhum Hi.Djafar Ibrahim Kotadadi berjudul: Loloda, Ngara Mabeno yang Terlupakan.

Buku yang diterbitkan Penerbit WR Jogyakarta, Oktober 2014, dengan ISBN: 978-602-1384-55-8 ini memuat seputar sejarah moyang mereka di sebuah distrik di utara yang sangat dihormati.

Baca Juga  Kejari Malteng Panggil 30 Legislator Terkait Dugaan Korupsi Bansos Rp8,1 Miliar, 10 Mangkir

Dari Loloda inilah kita mengenal Horukie, puteri dari Jazirah Utara, Halmahera. Ia sang pendekar yang diberi nama oleh kedaton yang melahirkan imperium besar bernama Ternate. Sebagaimana juga Sasa, Depana, dan Robodoi sang penguasa laut itu — Loloda menjadi pilar penting manakala bajak-bajak laut tunduk kepadanya.

Loloda sendiri sudah dikenal dalam sejarah bahkan dalam beberapa literatur disebut sebagai salah satu kerajaan tertua di Maluku. Inilah wilayah yang pada zaman keemasan imperium Ternate-Tidore yang dalam Encyclopaedy van Nederland Indie 1918 disebut sebagai “Gerbang Maluku” dengan julukan: Loloda Ngara Mabeno, penjaga pintu utara, itu.