Sebab, jika dilihat secara geografis wilayah Maluku bagian utara maka sesungguhnya potensi kemunculan gerakan-gerakan bajak laut di kawasan itu adalah pada pesisir barat Halmahera, baik di barat daya maupun di barat laut.
“Di situ ada Loloda. Sebuah negeri teluk yang di sekitarnya diliputi oleh daerah pesisir, sungai, tanjung, kepulauan, dan teluk. Di mana menjadi sarang-sarang kemunculan pergerakan bajak laut yang umumnya selalu menentang dan menyerang kapal api kolonial Belanda yang selalu berupaya memblokade dan memonopoli jalur-jalur ekonomi maritim di Maluku,” ujarnya.
Dalam studi yang dilakukan tentang bajak laut yang ditulis oleh Bleeker seorang penulis Belanda abad ke-19 banyak menyebutkan peranan Loloda dan orang-orangnya yang dalam kaitannya dengan aksi-aksi bajak laut di kawasan laut dan Kepulauan Maluku mengungkapkan peranan mereka memblokade hegemoni Belanda pada jalur maritim di Maluku itu.
“Buku itu sesunguhnya jika saya analisis juga dipakai dan dikutip bahkan diterjemahkan pula oleh sejarawan A.B. Lapian dalam disertasinya berjudul: Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad ke-19. Tetapi nampak dari hasil bacaan saya Lapian tidak mencantumkan karya Bleeker yang menarik itu ke dalam catatan kaki dan daftar pustakanya. Saya tak tahu alasannya mengapa AB.Lapian tidak mencantumkan itu,” ujarnya. (*)





