Itu sebabnya sehingga dapat dikatakan bahwa Loloda memang “hilang” di Halmahera, Maluku Utara, tetapi sesungguhnya Loloda “muncul” di Sulawesi Utara dengan diaspora politik dan kultural bahkan meluas hingga ke wilayah lain seperti Sulawesi Tengah, Luwuk, dan Banggai.
Robodoi dan Bajak Laut
Dalam beberapa literatur kolonial Belanda, Robodoi selalu dikatakan dari Tobelo dan dianggap sebagai pemimpin bajak laut Tobelo-Galela yang ditakuti pemerintah kolonial.
Namun, berdasarkan studi yang dilakukannya ia menemukan ada perbedaan antara tradisi lisan masyarakat lokal dan dokumen-dokumen kolonial yang ada.
“Bajak laut yang beroperasi di kawasan laut dan kepulauan Maluku tidak selalu orang Tobelo-Galela, tetapi sesungguhnya terdapat pula banyak orang Loloda. Dan orang-orang dari utara dan barat Halmahera,” ujarnya.
Di sinilah Robodoi muncul yang tidak telepas dari kata “Doi” yang menjadi salah satu nama pulau di Kepulauan Loloda Utara sebagaimana terdapat dalam peta Indonesia bernama Pulau Doi.
Robodoi juga dalam literatur disebut sebagai Jouhukum Doi atau penasehat hukum laut dari Pulau Doi yang dipakai oleh Kesultanan Tidore.
Dikatakan, generalisasi untuk semua bajak laut dari Halmahera yang beroperasi di kawasan laut dan kepulauan Maluku dan perairan di kawasan laut dan Kepulauan Sulawesi adalah orang-orang Tobelo-Galela yang banyak disinggung oleh AB. Lapian seorang sejarawan maritim Indonesia terkemuka nampaknya perlu ditinjau kembali.





