Madrid dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

oleh -66 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pelaku Sepakbola

Awal Mei ini, ketika wasit Daniele Orsato meniup peluit akhir leg 2 antara Real Madrid vs Manchester City, ada sebuah selebrasi unik yang dilakukan semua punggawa Los Blancos. Bukan tentang merayakan come back luar biasa malam itu di Santiago Bernabeu setelah sempat tertinggal dengan agregat 3-5 dari sang tamu – sama seperti come back luar biasa atas Chelsea dan PSG di babak sebelumnya – tetapi kali ini Benzema dkk berjalan mengelilingi para fans dengan kostum bertuliskan A Por La 14.

Kalimat ini berarti “Persiapan Menuju 14”. Maksudnya jelas. Madrid bersiap meraih gelar ke 14 mereka di Liga Champions. Sebuah keyakinan. Sebuah maklumat bahwa Madrid sangat identik dengan Liga Champions dan begitu sebaliknya. Ada pertautan sejarah, nama besar dan juga hasrat untuk terus bikin rekor.

Sebuah kebetulan jika Madrid juga akan menghadapi lawan yang sama di final. Jika anda ingat, empat tahun lalu, usai menyingkirkan Bayern Muenchen di babak semifinal awal Mei 2028, seluruh pemain Madrid juga menggunakan kaos dengan tulisan mencolok : A Por La 13. Banyak sinisme saat itu menanggapi optimisme Madrid. Apalagi belum ada dalam sejarah, sebuah klub juara UCL tiga kali berurutan. Namun Madrid bersama Zinadine Zidane melumat Liverpool di final yang dikenang sebagai “Tragedi Karius” dengan skor 3-1. Zidane jadi pelatih pertama yang bikin hattrick juara UCL berurutan dan Madrid menambah koleksi Kuping Besar menjadi 13.

Dinihari tadi di Stade Parc des Princes, markas klub paling kaya di Perancis yang seminggu lalu terlibat saga emosional terkait Mbappe yang semula setuju pindah tetapi akhirnya urung menuju ibukota Spanyol, Madrid bertemu lawan yang sama saat juara ke 13 dan mengalahkan Liverpool untuk meraih titel ke 14. Saya tak lagi mereview hasil final yang disiarkan ke berbagai pelosok dunia. Bagi saya, final kali ini menahbiskan beberapa legenda sepakbola dengan catatan penting untuk dikenang sebagai sesuatu yang spesial.

Bahwa Madrid juara 14 kali bagi saya sebuah kewajaran. Mungkin lebih menarik menunggu mereka mengangkat piala yang sama untuk ke 20 kalinya dalam rentang satu dua dekade ke depan. Dalam sepuluh tahun terakhir, Madrid sudah menjuarai lima edisi UCL. Dengan pemain yang tak banyak berganti. Dulu klub ini dikenal royal membeli bintang hingga dijuluki Los Galacticos. Namun sejak juara 2014, geliat transfer pemain berubah. Madrid tak lagi membeli pemain jadi dengan harga fantastis. Siapa yang mengenal Casemiro sebelumnya?. Lalu Benzema yang bertahun-tahun jadi deputi Ronaldo. Atau Modric yang dibeli dari Spurs?. Atau El Capitano Marcelo?.

Baca Juga  KLHK Tangkap Dirut PT Bangun Cipta Mandiri Terkait Ilegal Loging

Marcelo, Benzema, Bale, Modric, Kroos, Casemiro dan Isco adalah loyalis yang selalu memberikan yang terbaik setiap turun berlaga. Mereka adalah pemain yang bermain di UCL 2024, 2016, 2017, 2018 dan 2022. Dan mereka jadi juara. Ini tentang mentalitas. Sikap profesional yang tak pernah berhenti berburu gelar. Mengabaikan kepuasan. Juga rendah hati. Tak ada arogansi bintang di kamar ganti. Isco dan Bale juga Marcelo tak banyak bermain. Tapi mereka memilih sabar karena yakin pada pilihan taktikal dan menghormati benar keputusan pelatih. Dan mari belajar menghormati senioritas. Madrid mewariskan ini untuk anak muda seperti Vinicius, Rodrygo, Camavinga, Cabellos, Valverde dan banyak lagi yang akan tumbuh dan berkembang bersama.

Lihat kerendahan hati Benzema. Sosok Wak Haji yang jadi top skor UCL musim ini dengan 15 gol – beberapa golnya jadi penentu ketika menyingkirkan PSG dan juga trio hebat Inggris secara berurutan, Chelsea, City dan Liverpool – memberi jalan penghormatan untuk “the real kapten” Marcelo menerima si Kuping Besar di panggung utama. Padahal Marcelo tidak bermain. Adakah pemain bintang yang rela berperilaku seperti Benzema?. Ia adalah tumpuan utama lini serang Madrid musim ini. Benzema menjawab kegalauan Madridista saat ditinggal Ronaldo. Sendirian kini Ia membimbing Vinicius dan Rodrygo. Kombinasi 27 gol di La Liga yang menjadikannya sebagai top skor dan lima titel UCL adalah jaminan utama dirinya meraih Ballon d’Or musim ini. Sebuah penghianatan jika Benzema tak.mendapat pengakuan itu setelah musim fantastisnya.

Sosok kedua yang sangat penting untuk ditulis adalah penjaga gawang asal Belgia, Thibaut Courtois. Ini final pertamanya di UCL dan Ia sukses meraih juara dengan catatan fantastis. Sembilan save yang brilyant dan membuat frustasi Salah dan Mane adalah rekor terbaru di partai final. Courtois mengalahkan rekor delapan save milik Edwin van Der Sar di final 2011. Tak salah jika Ia meraih “Man Of The Match”. Boleh dikata Liverpool dinihari tadi melawan Courtois seorang diri. Statistik laga membuktikannya. Kontribusinya sepanjang musim ini di UCL dan di La Liga seperti mengingatkan Madridista pada sosok legenda Iker Casillas. “Saya ingin juara agar semua orang menghormati diriku”, katanya.

Baca Juga  Donci For Mama

Lalu siapa sosok berikutnya?. Carlo Ancelotti. Orang ramai memanggilnya dengan sebutan Don Carlo. Don adalah panggilan hormat untuk tuan yang jamak digunakan oleh orang-orang Italia dan Spanyol. Tuan disini lebih pada prestasi dan juga kebesaran yang ditorehkan. Don Carlo adalah sosok teratas yang meraih empat piala Champions. Dua kali bersama AC Milan di tahun 2003 dan 2007 serta dua trophy bersama Madrid tahun 2914 dan 2022. Ia melewati Zidane dengan tiga trophy. Ia juga akan dicatat sejarah sebagai pelatih yang back to back meneruskan tradisi juara dengan mengalahkan lawan yang sama dengan pelatih yang sama pula di partai final

Sosoknya tenang. Tak banyak bicara. Tapi disitulah kekuatannya. Dan karenya Ia dihormati seluruh pemain Don Carlo juga sangat menghormati pemain senior Ia menjadikan mereka teman diskusi dan mendengar masukan saat membahas taktik. Lihat suasana di ujung laga melawan City saat Ia dikelilingi Marcelo dan Kroos. Semula Ia berniat mengganti satu pemain namun Kroos dan Casemiro berkeras harus dua pemain yang diganti Ia mendengar saran itu dan hasilnya Madrid mengunci perlawanan City. Don Carlo jago membaca kelebihan dan kelemahan lawan. Mantan gelandang hebat ini sadar benar bahwa Liverpool di final kali ini lebih berbahaya dibanding empat tahun lalu. Mereka punya bomber haus gol dengan kualitas di atas rata-rata.

Siapa yang tak ngeri melihat perfoma Salah, Mane, Firmino, Jota dan juga Luiz Diaz. Karena itu Ia memilih bermain sabar. Semua pemain diminta menguasai bola lebih lama. Garis pertahanan Madrid fokus pada kedalaman. Mereka menunggu setiap kali Liverpool melakukan build up serangan. Statistik babak pertama membenarkan strategi Don Carlo. Bayangkan saja, Madrid unggul ball position sebesar 52 persen tapi tak satupun shoot on goal dilakukan Benzema dkk. Untuk tim juara, catatan babak pertama tanpa tendangan ke gawang lawan adalah buruk. Tapi pilihan taktik ini tak salah. Begitu ada fast break, Madrid merangsek dengan strategi yang berulang kali dilakukan musim ini. Serangan balik cepat. Sederhana namun mematikan. Ketika Vinicius menjebol gawang The Reds, saat itulah Madrid menunjukan DNA mereka. Bahwa jika ada tim ingin juara UCL, tak perlu malu belajar pada Madrid.

Baca Juga  Pangdam XVI/Pattimura Pimpin Sertijab Kasdam

Publik sepakbola terutama fans Liverpool bolehlah berargumen jika Madrid bermain sangat standard. Tapi sepakbola adalah tentang meraih juara. Tak sekedar bermain indah namun gagal. Don Carlo adalah sosok yang punya pengalaman tak mengenakkan saat bermain indah dan bikin banyak gol namun gagal di akhir laga. Final Istambul 2005 jadi memori buruk. Don Carlo yang melatih AC Milan kala itu unggul 3-0 atas Liverpool di babak pertama. Semua penikmat bola yakin Milan akan juara. Namun Rafa Benitez mengubah segalanya. Babak kedua, The Reds bangkit secara fenomenal. Bikin tiga gol untuk memaksa laga berlanjut hingga adu penalti. Dan seperti mimpi, Liverpool jadi juara. Milan dan Ancelotti menangis.

Butuh waktu yang sangat lama bagi Don Carlo untuk membalas kekalahan menyakitkan itu. Dan dengan Madrid, asa untuk melakukan revans akhirnya terpenuhi di Paris dinihari tadi. Don Carlo mewariskan sebuah legacy bahwa sepakbola adalah tentang hal-hal kecil yang jika dikelola dengan jenius dan rendah hati akan menghasilkan hal-hal besar. Sepakbola butuh proses untuk mengubah progres. Bukan sesuatu yang instan. Bukan pula tentang dendam dan kebencian. Sepakbola tak semata soal kalah menang tapi soal belajar dari masa lalu untuk menentukan langkah sukses di masa depan. Seperti kata Wak Haji Karim Benzema : ini bukan tentang dendam dan masa lalu, tapi bagaimana kami membangun masa depan.

HalaMadrid (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.