Madrid dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

oleh -314 views

Siapa yang tak ngeri melihat perfoma Salah, Mane, Firmino, Jota dan juga Luiz Diaz. Karena itu Ia memilih bermain sabar. Semua pemain diminta menguasai bola lebih lama. Garis pertahanan Madrid fokus pada kedalaman. Mereka menunggu setiap kali Liverpool melakukan build up serangan. Statistik babak pertama membenarkan strategi Don Carlo. Bayangkan saja, Madrid unggul ball position sebesar 52 persen tapi tak satupun shoot on goal dilakukan Benzema dkk. Untuk tim juara, catatan babak pertama tanpa tendangan ke gawang lawan adalah buruk. Tapi pilihan taktik ini tak salah. Begitu ada fast break, Madrid merangsek dengan strategi yang berulang kali dilakukan musim ini. Serangan balik cepat. Sederhana namun mematikan. Ketika Vinicius menjebol gawang The Reds, saat itulah Madrid menunjukan DNA mereka. Bahwa jika ada tim ingin juara UCL, tak perlu malu belajar pada Madrid.

Baca Juga  Kasus Pemandu Gunung Dukono Jadi Sorotan, DPR Ajak Masyarakat Kawal Bersama

Publik sepakbola terutama fans Liverpool bolehlah berargumen jika Madrid bermain sangat standard. Tapi sepakbola adalah tentang meraih juara. Tak sekedar bermain indah namun gagal. Don Carlo adalah sosok yang punya pengalaman tak mengenakkan saat bermain indah dan bikin banyak gol namun gagal di akhir laga. Final Istambul 2005 jadi memori buruk. Don Carlo yang melatih AC Milan kala itu unggul 3-0 atas Liverpool di babak pertama. Semua penikmat bola yakin Milan akan juara. Namun Rafa Benitez mengubah segalanya. Babak kedua, The Reds bangkit secara fenomenal. Bikin tiga gol untuk memaksa laga berlanjut hingga adu penalti. Dan seperti mimpi, Liverpool jadi juara. Milan dan Ancelotti menangis.

No More Posts Available.

No more pages to load.