Makna Hawa Nafsu

oleh -2,187 views

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Saudaraku, sekiranya manusia tak memiliki hawa nafsu—tak ingin berkuasa, menimbun harta, mencipta keindahan, dan haus akan pengakuan—mungkin hidup akan menjadi datar dan hening, seperti gurun tanpa angin.

Kita akan berjalan tanpa arah, sekadar mekanisme yang bergerak karena harus, bukan karena mau. Tak ada ambisi, tak ada cita; tapi juga tak ada tawa, cinta, atau doa. Yang tersisa hanyalah keberadaan yang dingin—sunyi tanpa makna, abadi tanpa kegairahan.

Sebab yang menggerakkan kita bukanlah kesempurnaan, melainkan kegelisahan. Manusia hidup karena tak pernah puas; berpikir karena meragukan; mencipta karena takut dilupakan. Dari nafsu untuk menguasai lahir sejarah; dari nafsu menimbun harta lahir peradaban; dari nafsu mencipta keindahan lahir seni; dan dari nafsu untuk diakui lahir reputasi—cermin rapuh tempat manusia memantulkan keberadaannya di mata sesama.

Namun segala yang lahir dari hasrat pun berujung pada kehampaan. Kekuasaan berlalu, harta menguap, nama terhapus oleh debu waktu. Dan di hadapan kefanaan itu, kita dihadapkan pada absurditas yang sama: mengapa semua ini harus ada, bila akhirnya tak tersisa apa-apa?

Baca Juga  Kejagung Tetapkan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Tersangka Korupsi Program MBG

Barangkali di situlah makna yang paling jujur tersembunyi: bahwa hidup bukan untuk mencapai kekekalan, melainkan untuk menolak kehampaan—meski hanya sekejap. Bahwa kita terus mendaki meski tahu batu itu akan terguling kembali, sebab dalam mendaki itulah manusia menemukan martabatnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.