Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Semua kediktatoran lahir dengan cara yang hampir serupa: bukan pertama-tama melalui senjata, melainkan melalui kata-kata. Sebelum kebebasan dirampas, bahasa lebih dahulu diubah menjadi alat untuk membelah manusia. Sebelum kritik dibungkam, lawan diberi cap sebagai ancaman. Sebelum kekuasaan menjadi mutlak, rakyat diyakinkan bahwa hanya ada satu suara yang pantas didengar.
Itulah pelajaran paling penting yang dapat dipetik dari Mein Kampf—bukan sebagai buku yang layak diikuti, melainkan sebagai dokumen sejarah yang menunjukkan bagaimana otoritarianisme mula-mula dibangun di dalam bahasa.
Ketika pertama kali terbit pada 1925, banyak orang mungkin menganggap Mein Kampf sekadar curahan pikiran seorang politikus yang gagal merebut kekuasaan. Namun sejarah membuktikan sebaliknya. Buku itu menjadi cetak biru propaganda yang kelak mengantarkan Adolf Hitler menuju tampuk kekuasaan dan menyeret Jerman, bahkan dunia, ke dalam salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah. Karena itulah Mein Kampf tetap dibaca hingga hari ini, bukan untuk membenarkan isinya, melainkan untuk memahami bagaimana sebuah gagasan dapat mengubah arah sejarah ketika bertemu dengan kekuasaan.










