Maka, ketika kelas menengah mulai terbuka pikirannya bahwa Jokowi alias Mulyono memang raja Jawa, bukan presiden sebuah republik negara-bangsa modern, mereka tetap menolak Anies. Mereka marah dan benci Jokowi (figur yang dulu didukung sepenuh hati itu), tetapi tidak bisa menerima Anies sebagai alternatif. Anies tetap dianggap bapak politik identitas yang berbahaya.
Framing kekuasaan terhadap Anies menancap sempurna di sanubari kelas menengah sekuler dan Muslim tradisionalis. Kelompok pertama alergi dengan Islam politik yang dilekatkan kepada Anies, sedangkan kelompok kedua melihat Anies adalah sosok yang dekat dengan Wahabi. Secara cerdik pasukan perang digital kekuasaan memanfaatkan sentimen klasik ini. Lagi-lagi dalam hal ini Anies tidak berdaya, bahkan tidak melakukan sesuatu untuk membalasnya. Sebagai politisi dia payah!
Akibatnya kelas menengah yang sudah mulai kritis terhadap Jokowi tidak mempunyai orientasi yang jelas, khususnya mengenai figur alternatif. Dalam pilpres kemarin mereka mungkin mencoblos Ganjar, tetapi jelas dia tidak sepopuler Anies (dan Ahok). Lagi pula Ganjar adalah bagian dari PDIP yang suka tak suka telah membesarkan Jokowi hingga menjadi Raja Jawa seperti sekarang.








