Belum lama setelah Presiden Prabowo berpidato, ada kawan lama mengirim pesan kepada saya. “Mau tahu bagaimana ‘two state solution’ itu dilakukan?” tanyanya. Lalu dijawabnya sendiri, “Lihat Timor Leste!” Apakah terlalu sulit untuk memahami bagaimana Indonesia menginvasi negara kecil ini dan menjadikannya provinsinya.
Namun wilayah kecil ini tidak pernah berhasil ditaklukkan sepenuhnya. Prabowo sendiri menghabiskan bertahun-tahun karir militernya di sana. Hasilnya? Timor Leste menjadi negara sendiri. Kecil namun berdaulat. Tidak kaya namun bermartabat. Bukankah rakyat Palestina ingin seperti itu juga?
Juga persis ketika Prabowo berpidato, di lini masa saya berseliweran tanggapan dari orang-orang Papua yang berdiplomasi untuk kemerdekaan negaranya. Two state solution untuk Palestina? Mengapa itu tidak ditawarkan juga oleh Indonesia kepada Papua?
Sampai disana, kepala saya pusing. Mau menyelesaikan masalah orang lain, kok aib kita sendiri yang terbuka lebar. Sudah benar presiden mantan yang bilang, “We not onle tok de tok but we wok de tok.” … Sekalipun ijasahnya nggak ketahuan dimana (mungkin juga ga ada), kali ini dia benar. Bicara yang benar, tidak butuh ijazah kan? Plethok! (*)











