Menggenggam Semu

oleh -5 Dilihat

“Jangan bersedih, aku tak akan pergi jauh darimu.” Sahutnya seraya mendongak wajahku dan menyeka bulir bening yang telah memenuhi sudut mataku. Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum padanya. Sulit memang, tapi aku tak ingin membuatnya terbebani dengan tangisanku ini.

“Kau jangan pernah menganggap diriku lari darimu. Karena aku tak akan pernah melakukan hal secemen itu.” Seolah ucapannya itu telah memberi harapan baru setelah kepergiannya nanti. Aku hanya mengangguk tanpa berkata. Walau sebenarnya hatiku begitu kekeuh untuk melarangnya pergi.

“Aku ingin bertanya padamu. Apakah selepas aku pergi, kau akan merindukanku?” Tanyanya dengan bola mata yang menatap tajam kepadaku. Aku mengangguk keras, aku tersenyum puas. Tentu. Tentu aku akan merindukanmu. Jikalau rindu adalah sebuah pekerjaan, maka kaulah bayaran yang akan aku dapatkan. Dia tersenyum dan langsung meraih tubuhku, menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya. Kali ini entah apa yang aku rasa. Aku terisak di dalam pelukannya. Aku tak bisa menahan rasa yang sulit aku jabarkan.

Baca Juga  Razia Gabungan Lapas Jailolo, Petugas Temukan Pisau, Silet hingga Paku di Blok Hunian WBP

Biarkanlah pelukan ini bertahan lama. Agar aku dapat mengenali dirimu dengan baik. Agar aku dapat merasakan bagaimana setiap desir nafas dan detak jantungmu. Ketika kelak kau kembali, aku masih mengenalmu dengan baik meski dalam jangka waktu yang lama. Suara kereta yang berhenti di stasiun menghentikan acara kesyahduan kami. Dia langsung melepaskan pelukannya. Begitu pintu gerbong terbuka, semua orang yang telah menaikinya langsung keluar berhamburan. Tangannya yang sempat masih menggenggam tanganku mulai merenggang, dia berjalan sedikit maju dariku. Mungkin dia begitu menantikan saat-saat seperti ini. Namun tidak denganku. Aku tak pernah berharap masa seperti ini. Karena aku tahu, kelak inilah yang akan meninggalkan goresan luka.

No More Posts Available.

No more pages to load.