Porostimur.com, Labuha – Perahu kecil itu bergerak perlahan meninggalkan Desa Dowora. Di dalamnya, mama-mama membawa jeriken kosong. Mereka tidak sedang bepergian jauh, apalagi mencari penghidupan di negeri seberang. Mereka hanya sedang menjemput sesuatu yang seharusnya tersedia dekat dari rumah: air.
Hampir satu jam perahu itu membelah perairan menuju sumber air.
Jeriken-jeriken kosong yang dibawa dari kampung kelak harus kembali dalam keadaan penuh. Sebab, tanpa air, kehidupan di rumah akan berhenti.
Bagi sebagian orang, mendapatkan air cukup dengan memutar keran. Air mengalir, ditampung, lalu digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, atau sekadar menghilangkan dahaga.
Tetapi di Dowra, air tidak datang semudah itu.
Ia harus dijemput. Harus menyeberang. Harus menghabiskan waktu hampir satu jam di atas perahu, lalu kembali dengan beban yang lebih berat.
Dan perjalanan itu bukan dilakukan sekali.
Ia menjadi rutinitas.
Air yang Tak Sepenuhnya Layak, Tapi Tetap Dibawa Pulang
Ada ironi yang lebih getir dari perjalanan panjang tersebut.
Air yang diambil warga Desa Dowra disebut memiliki rasa salubar dan dikeluhkan tidak layak untuk dikonsumsi. Namun keterbatasan sumber air membuat warga tidak memiliki banyak pilihan.
Air itu tetap dibawa pulang.
Digunakan untuk mandi, mencuci, dan memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Dalam kondisi tertentu, air tersebut juga menjadi bagian dari upaya warga memenuhi kebutuhan air minum, meski kualitasnya masih dikeluhkan.











