Merelakan Dia Untukmu

oleh -8 Dilihat

Saat pulang sekolah, Nara bertemu kembali dengan Hasan. Nara melewati Hasan dengan cuek namun, Hasan malah menahanya dengan mencekal tangannya.
“Lepaskan!!” bentak Nara pada Hasan.
“Hei? Kenapa kau marah-marah?” tanya Hasan.
“Hah..! bukan urusanmu!!” ketus Nara.
“Oh ayolah jangan bersikap begitu padaku..” mohon Hasan.
“Lepaskan aku! aku ingin pulang!”
Hasan tersenyum..
“Akan kuantar. mari!” Hasan menyeretku ke tempat parkiran.
Hasan menaiki motornya dan menyuruhku untuk naik ke atas motor.
“Hei kenapa kau diam saja? Ayo cepatlah naik..”
“Tidak perlu repot-repot, aku akan pulang sendiri.” Nara hendak pergi meninggalakan Hasan, namun tangannya kembali dicekal oleh Hasan.
“Kau pikir semudah itu lolos dariku?” Hasan menatap Nara lekat.
Nara merasakan hatinya dag-dig-dug. Tapi karena sifat cueknya ia berusaha tenang.
“Hasan! Tak bisakah sehari saja kau tak menggangguku?” Nadaku meninggi.
“Tentu saja… tak bisa!” jawab Hasan.
“Apa urusanmu denganku? Tidak ada bukan?” bentakku.
Hasan tersenyum dan mendekatkan bibir merahnya pada telingaku.
“Kau tahu? Aku mencintaimu.” kata-kata Hasan membuat Nara terdiam mematung untuk sesaat.

Baca Juga  Perahu Terbalik di Perairan Tulang Ikan Ternate, Satu Pemancing Tewas dan Anak 6 Tahun Hilang

“Kau menipuku?” tanya Nara sambil menatap Hasan nanar. Hasan tersenyum, senyum yang sangat manis sekali.
“Apa kau berfikir begitu nona Nara?” ucapnya sembari meledeku.
“Hei! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” bentak Nara.
“Oh ya.. ya.. baiklah.. jangan marah begitu donk..” Hasan mencolek-colek pipiku yang merah antara malu dan marah.
“Ah tak tahulah!” Narapun pergi meninggalkan Hasan dengan pipi yang masih merah dan hati yang sangat kaget plus senang.

No More Posts Available.

No more pages to load.