Merelakan Dia Untukmu

oleh -8 Dilihat

Hari ini hari rabu, hari yang sangat membosankan untuk Nara. Ia juga masih teringat jelas kata-kata Hasan kemarin siang. Nara sebenarnya sudah menyukai Hasan sejak pertama kali bertemu. Tetapi Nara bingung karena ternyata sahabatnya Zya juga menyukai Hasan. Jikalau Zya tau Nara suka pada Hasan pastilah hubungan persahabatan Zya dan Nara akan merenggang dan lebih parah lagi bisa hancur. bayangkan saja persahabatan yang sudah dibangun oleh Nara dan Zya sudah dua tahun, lalu sekarang hancur begitu saja hanya karena cowok? wah parah..!!

“Nara-chaan..” panggil ibu.
“Ada apa?” jawab Nara.
“Tolong belikan sayur dan dimsum di toko dray, ibu akan membuat sup.” teriak ibunya.
“Ya baiklah..” Nara pun turun ke bawah dan segera melaksanakan perintah ibunya.

Baca Juga  Ogah Wilayahnya Gabung dengan SBB, Warga Samasuru Blokade Jalan Trans Seram

Saat di perjalanan.
“Nechan..!!” panggil Hary dari arah belakang. Hary adalah teman Nara ia biasa memanggil Nara dengan sebutan ‘NECHAN’ singkatan dari Nara Chan. Nara menoleh.
“Hmm?oh hei Hary..” sapa Nara.
“Kau mau kemana Nechan? sendirian saja? mau aku temani?” tanya Hary bertubi-tubi.
“Tentu!” Nara dan Hary pun berjalan bersama sembari bercanda tawa.

Keesokan harinya..
“Nara kemarilah..” panggil sahabatku Zya. Aku menoleh lalu menghampirinya.
“Ada apa?”
“Aku ingin bercerita..”
“Tentang apa?”
“Mimpiku..”
“Baiklah.”
“Jadi semalam itu aku bermimpi sangat buruk..” ucapnya.
“Kau bermimpi apa?” tanyaku.
“Hasan..” lirihnya.
“Hasan? harusnya kau gembira bukan telah memimpikan orang yang kau sukai? Tapi mengapa kau malah menyebutnya dengan mimpi buruk?” tanyaku heran.
“Ya.. harusnya itu yang kurasakan namun.. malah sebaliknya.”
“Apa yang kau impikan?” tanya Nara.
“Aku bermimpi hasan menyatakan cintanya padamu dan dia membenciku.” Tiba-tiba Zya menangis.
“Hei kenapa kau menangis?!” aku kaget.
“Aku sakit, sangat sakit mendengar pengakuan Hasan di mimpiku..” tangisnya.
“Ck.. sungguh tak masuk akal!” geramku.
“Tap.. tapi bisa jadi itu benar Nara..” sambil menatap manik mata biru lautku lekat.
“Hei? kau percaya dengan mimpimu yang konyol itu?” aku balik menatap manik mata ungunya.
“Ah! aku tak tahu!” ucapnya frustrasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.