Oleh A. Malik Ibrahim, Politisi
“Di depan kamera, tak ada yang asli, semua adalah akting…” (Rhenald Kasali)
Sistem merit – meritokrasi ternyata cuma slogan kosong. Sekedar “omon-omon” dari silat lidahnya Sherly Tjoanda. Faktanya bukan merit sistem, tapi justru yang dipraktikkan adalah spoil sistem alias koncoisme.
Sistem merit lahir sebagai kritik terhadap aristokrasi dan bawaan nepotisme akut. Dalam Teori Organisasi tentang Birokrasi, kita mengenal istilah “Jacksonism Birokrasi”. Ketika Andrew Jackson menang pemilihan Presiden Amerika, ia seakan-akan menang perang. Maka semua rampasan menjadi miliknya. Dengan dalih perubahan dia mengangkat semua pendukung dan kroninya dalam jabatan publik.
Akibat tingkahnya kelewat serakah, dia dikritik Kongres karena melembagakan politik patronase yang dalam ilmu Admistrasi Negara disebut sebagai “spoil sistem”. Sistem pengangkatan pejabat berdasarkan hubungan pribadi, kroni dan patronklien. Di mana birokrasi dijadikan mesin politik kekuasaan agar segala dominasi dapat dijalankan secara sempurna.
Patron selalu merujuk pada sosok bukan sistem. Hubungannya adalah mendominasi, menguasai dan mengendalikan. Semua bertalian dengan orang dekat. Bukan atas dasar kompetensi, kinerja dan rasa adil.










