Micromanage Prabowo Subianto: Dari Harga Telur ke Krisis Kepercayaan

oleh -334 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Dalam ruang kekuasaan, ada garis tegas yang tak boleh kabur: batas antara mengarahkan dan mengendalikan, antara memimpin dan mencurigai. Batas itulah yang seharusnya dijaga dengan disiplin. Sebab begitu ia dilanggar, yang lahir bukan lagi ketelitian, melainkan dorongan untuk menguasai segalanya—hingga ke hal-hal yang semestinya bisa berjalan tanpa campur tangan langsung.

Seorang presiden mengaku terlalu micromanage. Ia menelepon para menterinya di jam-jam yang bahkan waktu pun terasa enggan bergerak—pukul dua pagi, atau lima subuh—sekadar menanyakan satu hal, misal harga telur hari ini. Lalu sebuah permintaan maaf pada menterinya dilayangkan, ringan di permukaan, namun berat dalam makna.

Sekilas, itu tampak seperti pengakuan yang jujur.

Namun ketika pengakuan itu disampaikan ke ruang publik, ia tidak lagi sekadar menjadi refleksi pribadi. Ia berubah menjadi pesan.

Baca Juga  Kasus Dugaan Penggelapan Arisan Rp800 Juta di Halteng Masuk Tahap I, Polisi Segera Gelar Perkara

Pesan yang ingin dibaca rakyat begini:

bahwa bahkan di saat semua orang terlelap, kekuasaan ini tetap terjaga; bahwa di saat tubuh meminta istirahat, ada pikiran yang terus berjaga demi harga kebutuhan pokok agar tetap terkendali.

Di titik ini, micromanagement tidak lagi berdiri sebagai gaya kerja.

Ia menjelma menjadi narasi—dan narasi selalu punya tujuan.

No More Posts Available.

No more pages to load.