Ngasem: Pasar yang Terlambat Dikenali Dunia

oleh -308 views
Hermanto

Turis-turis datang bukan lagi untuk menawar harga. Mereka datang untuk mengalami. Mereka mencari rasa yang tidak bisa mereka temukan di kota asal: rasa lengket gula, rasa kayu pada sendok, rasa pagi yang tidak dibuat-buat.

Ngasem pun berubah. Ia menjadi destinasi wisata—tanpa harus diiklankan. Tak ada baliho besar. Tak ada duta. Hanya suara dari mulut ke mulut, dari reels ke reels.

Pemerintah akhirnya datang terlambat. Mereka mulai membersihkan, menata ulang, dan memasang tanda bahwa Ngasem kini adalah “kawasan wisata kuliner tradisional.” Tapi bahkan sebelum itu, orang-orang sudah lebih dulu datang. Karena yang asli, selalu menemukan jalannya sendiri.

Yang lucu, warga Yogya sendiri kini jarang kebagian. Klepon habis duluan. Bubur sumsum ludes sebelum pukul sembilan. Ngasem jadi semacam rumah yang mendadak ramai tamu dari luar kota. Tuan rumahnya sendiri justru tak sempat duduk.

Namun di sela itu, masih ada yang tetap. Seorang ibu tua menyusun gethuk dengan tangan gemetar. Seorang bapak menggiling kelapa pakai parutan besi warisan. Mereka tak tahu video mereka ditonton lima juta orang. Mereka hanya tahu: ini pagi, dan orang akan lapar.

Baca Juga  Gakkum ESDM Tetapkan 25 Tersangka Tambang Emas Ilegal Gunung Botak, Mayoritas WNA China

Ngasem bukan hanya hidup kembali. Ia justru kini menjadi lebih dikenal daripada saat ia berada di puncaknya sebagai pasar burung. Ia menjadi simbol: bahwa yang sederhana tak selalu ketinggalan zaman. Kadang justru ia menunggu waktu yang tepat untuk dikenali.

No More Posts Available.

No more pages to load.