Eksperimentasi pemerintahan Presiden Sukarno menjadi celah bagi PKI untuk eksis dan membesar. Soekarno menetapkan kebijakan Manifesto Politik UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (Manipol Usdek) sebagai haluan negara.
Lalu menggabungkan kekuatan faham Nasionalisme, Agama, Nasionalisme (Nasakom) dalam pemerintahan.
Dan, menggalang kekuatan negara berkembang yang membuat poros lima negara : Jakarta, Phnom Penh, Hanoi, Pyongyang, dan Peking. Membangun kekuatan Nefos (New Emerging Forces) tahun 1962 sebagai antitesa melawan Poros Oldnefos, yaitu kekuatan negara maju yang berwatak imperialis.
Grand Design PKI
PKI itu nyata berkuasa. Grand design PKI menguasai Indonesia, salah satunya adalah dengan meluluh-lantakkan kekuatan (politik) Islam. Bangsa Indonesia yang relijius, harus dibabat habis dari organisasinya. Menjadi porak-poranda, hancur dari dalam. PKI dan underbownya, CGMI, Lekra, Barisan Tani Indonesia (BTI), dan organisasi setujuan: Baperki, dan lainnya, tiada henti melakukan agitasi propaganda membangun opini untuk membubarkan HMI.
Penghancuran di Level Partai Politik Islam
Berdasarkan keputusan Presiden Nomor 200/1960, tanggal 17 Agustus 1960 Partai Masyumi harus membubarkan diri. Kalau tidak, Partai Masyumi akan diumumkan sebagai ‘partai terlarang’. Alasannya petinggi Masyumi terlibat pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/ Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/ Permesta) di Sumatera Barat. Lalu, Partai Masyumi membubarkan diri.









