Oposisi Politik Cak Nur

oleh -578 views

Tapi kembali lagi, kata Cak Nur “yang saya maksud (dengan pernyataan tersebut), agar ide ini mulai dipikirkan sejak sekarang”. Sayangnya banyak yang menelan secara mentah maksud dari “Islam Yes, Partai Islam No”. Padahal Cak Nur memberi suplai dan koreksi kepada desain partai Islam yang tampaknya kurang menjalankan peran artikulasinya dengan mantap. Cak Nur tidak anti partai islam, melainkan memompa kritisisme partai islam yang sedang kempis.

Bahkan ketika Cak Nur menyarankan mahasiswa/pemuda untuk mendukung partai (selain Golkar), juga bertujuan memberi keseimbangan politik atas dominasi Golkar. Hanya saja, imbauan Cak Nur tersebut tidak diikuti oleh keterlibatannya untuk berpartai.

Cak Nur tidak secara praktis berpolitik apalagi berpartai karena di tahun 1971 itu, ia masih menjabat Ketua Umum PB HMI. Sehingga mengharuskannya untuk menjaga independensi etis & organisatoris. Ia baru secara praktis terlibat di politik saat berkampanye untuk PPP di Pemilu 1977.

Baca Juga  Mercy Barends Minta Kasus Kepala Suku Malifut Diselesaikan dengan Restorative Justice

Terjun ke PPP

Cak Nur yang berkampanye untuk PPP bukan sekadar ajakan elektoral, melainkan bagian dari infiltrasi politiknya untuk memperkuat posisi PPP sebagai oposisi politik yang dapat mengimbangi dominasi Golkar. Oposisi yang dimaksudkannya bukan bernada “anti pemerintah” melainkan untuk mengoreksi kelalaian pemerintah. Ia membedakan dengan baik “Oposisi” dan “Oposisionalisme”. Oposisionalisme tidak baik karena berusaha mendaftar kesalahan pemerintah secara subjektif dengan mengabaikan capaian-capaian baiknya.

No More Posts Available.

No more pages to load.