Cak Nur adalah fenomena. Ia bukan aktor personal dalam belantara islam politik. Sehingga gerakan dan pikiran-pikirannya selalu diikuti oleh gejolak politik massal dari publik. Dukungan Cak Nur sebagai juru kampanye PPP terbukti ampuh menaikan suara PPP. Dari seluruh Partai Islam hanya PPP yang suaranya meningkat. PPP memperoleh 18.745.565 suara atau naik 2.17 % dengan meraih 99 Kursi. Peningkatan suara PPP juga mengalahkan Golkar yang kehilangan 4 kursi di parlemen (dari 236 ke 232). Bahkan, PPP di sejumlah daerah utama seperti Aceh dan Jakarta berhasil mengalahkan Golkar.
Dalam banyak analisis, sosok Cak Nur adalah kunci dari “kenangan manis kemenangan PPP” di masa itu. Cak Nur yang berani mengkritik pemerintah dan menempatkan diri sebagai oposisi loyal, bersisian erat dengan pikiran-pikiran ilmiah nan progressif. Ia yang dengan cerdas, menepis ide negara Islam yang disematkan kepada PPP, menempatkannya sebagai magnet politik kaum islam di tahun-tahun itu. Khususnya PPP.
Sebuah laporan majalah Merdeka edisi 19 April 1977 menulis bahwa “Lautan manusia massa Kakbah bergerak beringsut mendekati podium bahkan membuat presiden PPP Idham Chalid, yang berjalan terseret-seret saat naik mimbar tidak lebih dari dua menit”. Saking banjirnya dukungan politik terhadap PPP.









