Abid bercerita, semula ada 20 kepala keluarga di Suwom. Karena tak ada listrik dan akses jalan, warga perlahan-lahan tinggalkan kampung. Mereka memilih pindah ke Kelurahan Dowora dan Jati
Semasa sang ayah masih hidup, kata Abid, akses jalan yang diperjuangkan bapaknya menemui titik terang. Pemerintah bersedia membangun instalasi listrik dan jalan bagi masyarakat. Konsekuensinya, lahan harus digusur. Ternyata, tidak semua warga setuju. Ada yang protes, keberatan lahannya digunakan begitu saja.
“Apabila jalan dibangun, muncul pro dan kontra. Mereka tidak rela lahannya dilepas,”cerita Abid.
Bahar Ibrahim tetap berjuang. Meskipun suara-suara minor hingga caci maki diterima, tetapi Ia terima dengan terbuka dan rendah hati. Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah dilakukannya sekaligus.
Stigma bertubi-tubi datang dari bergai masyarakat. Caci maki kepada bapaknya terus terdengar di seluruh kampung. Tantangan itu, ia lalui dengan bijak dan kerendahan hati. Bahar Ibrahim, bapaknya mulai membangun pendekatan dengan cara meyakinan masyarakat dan Pemerintah.
Bahar Ibrahim berhasil. Ia bisa meyakinkan Wali Kota Tidore Kepulauan Achmad Mahifa untuk membangun jalan. Ia juga meyakinkan warga sehingga mereka rela melepas pohon-pohonnya untuk kepentingan umum.








