Tidak jarang, Bahar Ibrahim dimarahi dan diremehkan banyak orang, tapi dengan tegak hati ia datang kembali, bertatap muka dengan wali kota, dan juga masyarakat.
“Untuk persoalan harta, di dalamnya banyak pohon pala dan cengkeh. Bapak saya membuat pendekatan secara kekeluargaan, pelan-pelan mengambil hati masyarakat yang menolak hartanya digusur. Alhamdulillah, dengan ijin Allah, tahun 2008-2009 akses jalan bisa masuk di kampung Suwom, setelah diperjuangkan sejak tahun 1990-an,” papar Abid.
Setelah akses jalan sudah terbuka, persoalan berikut adalah listrik. Bahar Ibrahim kembali putar otak. Setelah menempuh jalan panjang dan berliku, listrik pun akhirnya masuk kampung Suwon.
“Akses jalan dan listrik sudah teralisasasi. Hanya tersisa sambungan jalan sekitar 100 meter lebih untuk menuju ke dalam kampung,” katanya.
Abid mengungkapkan kembali masa-masa sulit, sebelum ada listrik dan akses jalan. Waktu itu, warga keluar kampung menuju pasar sekitar pukul 02.00-03.00 WIT. Walaupun dengan akses jalan yang sulit, harus melewati bukit, tetapi mereka tabah dan sabar.
Waktu itu, ada yang beranggapan mustahil jalan bisa sampai di kampung, sebab tidak ada jaringan, tingkat pendidikan masih terbatas dan lainnya. Akibatnya, satu per satu warga Suwom meninggalkan kampung.








