Oranye, Ambon dan Seni Mencintai Kekalahan

oleh -87 views

Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis dan sastrawan nasional

Ada yang lebih sunyi daripada peluit panjang wasit yang mengakhiri pertandingan.

Ia adalah bunyi hati yang retak.

Hari ketika Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026, bukan hanya stadion yang kehilangan salah satu kandidat juara. Di belahan timur Indonesia, di sebuah kota kecil yang dikelilingi laut dan musik, ribuan hati ikut runtuh bersama langkah Oranje yang terhenti di babak 32 besar.

Ambon kembali patah hati.

Sejak kecil kami dibesarkan dengan cerita tentang Johan Cruyff, Marco van Basten, Ruud Gullit, Dennis Bergkamp, Edgar Davids, Wesley Sneijder, Arjen Robben, hingga generasi baru yang selalu menjanjikan harapan. Nama-nama itu bukan sekadar pemain sepak bola. Mereka adalah dongeng sebelum tidur bagi anak-anak Ambon, yang tumbuh dengan bola plastik di gang-gang sempit, lapangan pasir, dan halaman gereja.

Baca Juga  Cape Verde Lolos, Arab Saudi Tersingkir: Bukti Uang Bukan Segalanya

Di Ambon, mendukung Belanda bukan sekadar pilihan olahraga.

Ia sudah menjadi bagian dari nostalgia.

Barangkali sejarah memang meninggalkan jejak yang panjang. Jejak itu hidup dalam warna oranye yang memenuhi layar televisi setiap empat tahun sekali. Di warung kopi, di teras rumah, di pos ronda, bahkan di grup WhatsApp keluarga. Ketika Belanda bermain, Ambon selalu terasa sedikit berbeda. Jalanan menjadi lebih sepi, percakapan berubah menjadi analisis taktik, dan setiap gol dirayakan seperti pesta kecil.

No More Posts Available.

No more pages to load.