Pada Temaram Malam

oleh -1,094 views

Amaranggana terkesiap, wajahnya menunduk, dari bibirnya lirih terdengar, “Bhanu, maafkan aku, maafkan Amarangganamu ini. Sesungguhnya aku mencintaimu pula.”
Tapi Bhanu tidak mendengar suara lirih Amaranggana yang terucap bersamaan dengan debur ombak yang menghantam batu karang.

Pada langit di mana bulan menutup dirinya dalam selimut legam, malam menjadi begitu hening, tak ada lengusan napas daun nyiur, bahkan suara cengkerik pun seakan memahami suasana hati dua anak manusia itu. Mereka terdiam, seolah tak ingin dipersalahkan atas perpisahan Bhanu dan Amaranggana.

“Amaranggana yang bagiku kekasihku, telah kulepaskan semua,” ucap Bhanu akhirnya sambil melangkah mendekati Amaranggana. Dada Amaranggana berdebar, wajahnya masih menunduk. Ada gelisah dan malu yang menenyeruak masuk ke perasaan Amaranggana.
“Itu bukan puisi untukmu Amaranggana, itu amarahku, baru saja kulepaskan ke laut lepas. Agar cinta untukmu di dalam jiwaku tak terkelupas, palagi sampai harus kandas. Dapatkah kau pahami kegelisahanku Amaranggana?”
Amaranggana mengangguk, “maafkan aku Bhanu.”

Baca Juga  Brasil Menang Telak, Ribuan Fans di Kepulauan Kei Tumpah ke Jalan Rayakan Kemenangan

Bhanu menarik napas, kemudian tersenyum, ditatapnya mata Amaranggana lembut, “lihatlah aku Amaranggana, lihat lelaki ini. Lelaki yang mencintaimu sejak puisi pertama yang ditulisnya kau baca keras-keras. di tengah hujan senja yang deras. Di hidup lelaki ini tak pernah ada air mata, ia dilahirkan dengan takdir mengusap air mata Amaranggana. Bidadari mata indahku, esok sebelum matahari terbit, aku pamit pergi. Setelah itu, pintaku padamu, jangan ada air mata lagi di siang dan malam-mu.”

No More Posts Available.

No more pages to load.