Di Tanah Papua, misalnya, pelayanan pendidikan telah berlangsung sejak kedatangan Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler pada tahun 1855. Pendidikan menjadi instrumen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia, jauh sebelum negara hadir secara efektif. Hal serupa terjadi di Maluku dan berbagai wilayah kepulauan lainnya.
Sekolah-sekolah Kristen tidak hanya mengajarkan baca-tulis-hitung. Mereka membentuk karakter, menanamkan nilai moral, serta melahirkan generasi yang kemudian menjadi tokoh masyarakat, pemimpin daerah, hingga pelayan publik. Dalam banyak kasus, sekolah-sekolah ini menjadi satu-satunya pintu pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Dengan realitas historis seperti itu, sulit membayangkan perjalanan pendidikan Indonesia tanpa kontribusi sekolah-sekolah Kristen. Maka ketika negara mengambil kebijakan yang berpotensi melemahkan eksistensi mereka, publik berhak mempertanyakan arah dan sensitivitas kebijakan tersebut.
Bukan Sekadar Isu Keagamaan
Penting ditegaskan, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut sekolah Kristen. Penarikan guru ASN dari sekolah swasta menyentuh seluruh ekosistem pendidikan nasional, termasuk sekolah-sekolah Islam, Katolik, Hindu, Buddha, dan berbagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat lainnya.









