Oleh: Christ Z. Sahetapy, Kolumnis
Mutu pendidikan di Maluku sedang berada di persimpangan jalan. Bukan hanya soal rendahnya nilai ujian atau peringkat nasional, tapi lebih dalam: ada krisis visi, kualitas, dan arah. Jika salah menata pendidikan hari ini, maka yang kita pupuk bukanlah masa depan, melainkan keterpurukan yang sistematis dan tak terbendung.
Data demi data menunjukkan kenyataan pahit. Sejak 2019, Maluku konsisten berada di peringkat 30 dari 38 provinsi dalam mutu pendidikan dasar dan menengah. Belum ada kabar bahwa posisi ini membaik. Malah sebaliknya—di ruang-ruang kelas kita, keterbatasan fasilitas, rendahnya kompetensi guru, dan tidak adanya terobosan pembelajaran menjadi pemandangan biasa.
Bukan Sekadar Manajemen, Tapi Pembelajaran
Satu kekeliruan fatal yang terus terjadi adalah menyamakan manajemen pendidikan dengan pembelajaran. Padahal, lulusan manajemen pendidikan bukanlah tenaga yang didesain untuk membenahi praktik pembelajaran di kelas. Domain mereka adalah organisasi dan tata kelola. Tapi problem utama pendidikan Maluku hari ini adalah proses belajar-mengajar yang tumpul dan stagnan.
Untuk menjawab tantangan ini, Maluku butuh kehadiran para teknolog pembelajaran—bukan sekadar manajer pendidikan. Mereka adalah para ahli yang fokus menciptakan metode, pendekatan, dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan karakter peserta didik. Tanpa mereka, para guru tetap berjalan sendiri, bertumpu pada pola ajar lama yang tidak relevan dengan tantangan Revolusi Industri 4.0, apalagi Revolusi 5.0 yang sudah mengetuk pintu.










