Rejim ini perlu memproyeksikan kepercayaan bahwa semuanya baik-baik saja. Lihat kami masih bisa berpesta pora.
Banyak penguasa melakukan hal-hal seperti ini. Khususnya para penguasa yang memiliki kecenderungan untuk menjadi otoriter.
Namun sebenarnya juga para penguasa model ini sangat kuatir kepada lingkaran dalamnya sendiri. Ia tidak kuatir terhadap rakyat yang bisa di-bansos-kan atau kalau terpaksa dibedil. Ia kuatir dan menjadi paranoid akan orang-orang di sekelilingnya.
Dalam adegan Julius Caesar, Shakespeare menuliskan adegan ketika Brutus, orang yang sangat dekat dengan Kaisar itu, menikamnya. “Et tu, Brute?” tanya Kaisar. Kau juga, Brutus?
Pararelnya kira-kira adalah Soeharto menoleh kepada Harmoko, terus bilang, “Kowe ya melu, Moko?”
Sialnya, sebelum sampai ke sana, penguasa lalim, boros, nggak becus kerja, itu menghabisi para pengkritiknya. Dan, tentu saja, yang pertama kali dihabisi adalah para intelektual. Mereka yang berpikir bebas dan kritis, yang tahu kebobrokan rejim buruk ini sebelum rakyat banyak menyadarinya. (**)










