Di dunia yang mudah terbakar oleh prasangka, kisah ini adalah lentera kecil yang menolak padam. Dua keluarga Muslim menjaga tempat paling suci umat Kristen — bukan karena mereka harus, melainkan karena mereka memahami sesuatu yang lebih dalam: bahwa kesucian sejati bukan milik satu umat, melainkan milik semua pecinta kedamaian.
Mungkin Tuhan tersenyum di sana — di antara gema langkah para peziarah dan doa yang dilantunkan berbagai lidah — melihat anak-anak Ibrahim saling menjaga rumah satu sama lain. Di kota yang disebut suci namun sering terluka, kisah dua keluarga ini adalah ayat hidup tentang kasih yang melampaui batas keyakinan: bahwa menjaga tempat suci, pada hakikatnya, adalah menjaga kemanusiaan. (*)











