Perahu Yang Tak Pernah Berhenti Berlayar

oleh -20 views
Link Banner

Cerpen Karya: Irends Indriana

Dona adalah temanku, Ia seperti remaja 18 tahun pada umumnya yang sedang berusaha untuk menerobos batas aturan dunia, pergi berpesta di klub malam, dan menghamburkan uang untuk berbelanja.

Aku tidak pernah paham, sebenarnya apa yang Ia cari di bumi ini. Ia selalu melakukan kesenangan ini dan itu namun tidak ada rasa kepuasan pada dirinya.

Mungkin kisahnya bisa menjadi awal dari paragraf ini.

“Aku sedang mencari Adamku.” suara Dona dengan bau alkohol di mulutnya.
“Oh ya?, Aku yakin Adammu itu bukan penerobos aturan dunia.”

Dona berjalan menuju segerombolan anak laki laki yang sedang duduk di bawah patung seorang perempuan Mesir kuno yang menaungi para anak laki laki berasap rokok. Sepertinya, Ia ingin mencari Adamnya. Namun sayangnya, Adam yang Ia cari tidak ada disana.

“Ayolah Don, kamu sedang mabuk. Ayo kita pulang!” Tegasku sambil menarik lengannya yang masih menggenggam gelas berisi alkohol.
Aku mengantarkan dia pulang ke rumahnya.

“Malam ini menyenangkan!” Kata terakhir yang Ia ucapkan sebelum Ia jatuh pingsan di tempat tidurnya.

Baca Juga  3 paslon berpeluang duel dalam Pilgub Maluku

Sang surya sudah terbangun dari tidurnya dan sang rembulan sudah lenyap sama seperti Dona. Sudah berulang kali aku menghubunginya tapi dia tidak menjawabnya juga. Kemana dia?. Ini terakhir kalinya aku mencoba untuk menghubungi Dona dan akhirnya Ia menjawab….

“Don, kamu dimana sih? Dihubungin kok tidak dijawab?”
“Duh, aku lagi sibuk belanja sama teman teman. Oh ya, tahu nggak? Baru saja aku membeli kalung seharga 14 juta loh.”
“Apa? Alkohol yang kemarin belum cukup? Sekarang uang 14 juta kamu buang hanya untuk kalung?”
“Sudah… sudah… Aku lagi sibuk, jangan hubungi aku lagi ya. Bye!”
Dia langsung mengakhiri teleponnya begitu saja, sepertinya Ia tidak suka dengan kata kataku.
Ya….. Wajar saja Ia suka menghamburkan uangnya, dia anak dari pengusaha kaya. Namun, aku tidak suka caranya dalam memakai uang. Rasanya uang itu hanya seperti pelangi di tangannya. Yang muncul sesaat, lalu hilang begitu saja.

Baca Juga  Kenapa Orang Asia Dipukuli di Amerika Serikat?

“Kenapa aku masih belum menemukan Adamku ya?” Tanya Dona sambil menghela nafasnya yang berbau rokok.
“Mungkin semesta tidak mengizinkan kamu bertemu dengan Adammu sebelum kamu berhenti menerobos peraturan dunia, Don…”
“Terus?”
“Ubah hidupmu, kamu masih 18 tahun, Don….”
“Santai sajalah, masih 18 tahun. Kita harus menikmati masa remaja kita, hidup ini masih panjang.”
“Mungkin 18 tahun masih jauh untuk menggapai mimpi. Tapi, ini waktu yang tepat untuk memulai mimpi.”

Dia hanya terdiam. Semoga saja Ia memikirkan apa yang kukatakan, atau Ia malah memikirkan dimana Adam yang telah disediakan oleh semesta untuknya?.

Sepertinya ini kata awal untuk paragraf terakhir.

Dona berhenti sekolah, keluarganya mengalami kebangkrutan dan Dona beserta Adamnya tertangkap karena kasus nark*ba. Ia mendapatkan seorang Adam yang salah. Adamnya malah menjerumuskannya kedalam neraka. Aku pikir semesta tidak adil.

Baca Juga  Wakapolda Maluku Brigjen Pol Jan de Fretes Kunjungi Dit Krimsus & Dit Narkoba

Dona itu seperti perahu yang berada ditengah ombak. Sayangnya, dayung di perahu itu tidak tahu kemana Ia harus berlayar atau kemana Ia harus pergi. Kapan dia bisa berubah? Aku juga tidak tahu. Mungkin, semesta memberikan masalah ini kepada Dona agar Ia bisa berjalan lagi diantara sesaknya kehidupan dan berjalan menuju lorong kebenaran.

Seharusnya kisah ini tidak menceritakan tentang Dona dan Adamnya. Namun, mau bagaimana lagi? Malam sudah tidak bisa dibedakan dengan hitam, meski seluruh penjuru dunia dihiasi oleh lampu yang terang benderang. (*)