Percakapan Hayal Soekarno-Hatta

oleh -56 views

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Di sebuah ruang yang tak tercatat dalam sejarah—di antara ingatan dan kemungkinan—dua sosok duduk berhadapan di sebuah meja kayu tua. Tak ada bendera, tak ada podium, hanya keheningan yang seolah pernah menyaksikan keputusan-keputusan besar.

Di luar ruang itu, bayangan Indonesia bergerak cepat: gedung-gedung tinggi, layar digital, riuh debat politik, dan wajah-wajah rakyat yang sibuk, dan tampak lelah.

Soekarno menatap jauh, matanya menyala seperti api yang tak pernah benar-benar padam.
“Bagaimana kabar republik kita, Bung?”

Mohammad Hatta menghela napas pelan.
“Masih berdiri. Itu kabar baiknya. Tapi berdiri saja tidak cukup.”

Soekarno tersenyum tipis. “Ah, kau selalu mengukur dengan keteraturan. Administratif.”

Baca Juga  KNMP Labetawi Tual Siap Kirim 30 Ton Ikan ke Maluku Utara

“Dan Bung selalu melihatnya sebagai panggung perjuangan tanpa akhir,” jawab Hatta tenang. “Padahal panggung tanpa pengelolaan bisa berubah jadi kekacauan.”

Sejenak hening. Lalu Soekarno kembali berbicara, suaranya lebih dalam.
“Syukur, rakyat kita sekarang hidup di alam merdeka, ya?”

“Secara formal, ya,” jawab Hatta. “Tapi kemerdekaan sejati… selalu proses.”

“Proses?” Soekarno tertawa kecil. “Dulu kita menyebutnya revolusi!”

“Dan setelah revolusi,” sahut Hatta, “harus ada institusi. Sistem. Tanpa itu, semangat hanya jadi euforia sesaat.”

No More Posts Available.

No more pages to load.