Cerpen Karya: Sulusiyah
Malam ini hujan turun dengan derasnya, menyelimuti desa yang terletak tidak jauh dari danau Maninjau yang menggigil dengan desau anginnya dan mampu menerbangkan atap-atap kandang ternak milik warga. Beberapa kelompok laki-laki dewasa tampak berkeliling meronda dengan payung dan senter seadanya. Takut-takut jikalau malam ini jatuh korban lagi.
Di suatu rumah kecil dengan dinding kayu Cahyu seorang wanita muda dengan postur tubuh ramping dan kulit kuning langsat, merawat satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Mak Inah, ibunya.
Cahyu nampak gusar. Dari wajahnya menyembul raut ketakutan. Sesekali ia memandangi mak Inah yang terbaring di ranjang, sesekali ia juga berpikir. Hingga sampai pada satu keputusan, tangannya bergerilya mencari baju yang dulu sering ibunya gunakan. Baju untuk menari. Karena jika tidak ia tak akan mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya.
Malam ini keputusannya telah bulat, jiwanya sebagi anak terketuk untuk menyelamatkan ibunya yang mulai tak berdaya di ranjang pesakitannya. Sebelum ia berangkat ke tempat undangan telebih dahulu ia meminta do’a pada mak Inah, semoga malam ini uang saweran perdananya mampu mengantarkan mak Inah ke dokter.











