Pernikahan, Pasta Gigi, dan Kalimat-kalimat Panjang yang Memusingkan

oleh -33 Dilihat

Aku sendiri selalu berusaha menjawab kalau kau memanggil. Aku akan menjawabmu sekeras dan sejelas mungkin, tapi tidak pula terlalu keras supaya kau tak menyangka aku marah padamu. Itu kulakukan supaya kau tahu jika terjadi sesuatu yang buruk padaku.

Kalau-kalau ada yang menusuk perutku hingga lambungku robek dan aku tak bisa menjawab panggilanmu.

***

Aku terus mengerjakan “tanggung jawabku” dengan riang. Tapi jam dinding yang digantung di atas meja kasir terus berdetak. Tak-tuk, tak-tuk. Seiring detak jam dinding itu, jantungku terasa semakin meleleh. Waktu terus saja berjalan maju tanpa dapat kukendalikan.

Aku pun sampai pada kemasan pasta gigi terakhir yang harus kuletakkan: pasta gigi untuk gigi sensitif….

Baca Juga  Jaga Stabilitas Harga, Pemkot Tual Kembali Gelar Gerakan Pangan Murah di Ohoi Dullah Laut

Lalu tangisku pun pecah. Pecah sejadi-jadinya. Pegawai minimarket mendekatiku lagi. Bagaimana aku harus bilang padanya kalau aku tak mau pulang?

Aku tak mau pulang karena yang ada hanya sepi. Kesunyian familier yang memuakkan seperti saat Ayah pergi dari rumah.

***

Ketika kita pertama kali bertemu, aku sama sekali tak tahu tentang hidupmu. Tak tahu tentang ibumu yang meninggalkanmu saat kau baru saja mulai menjamahi kasih sayangnya. Tiga setengah tahun…duhai, apa yang kauingat tentang ibumu? Pantaslah kau selalu menggeleng setiap kali kutanya apa kau merindukan dia.

No More Posts Available.

No more pages to load.