Produksi Tak Bisa Instan
Selain rudal utama, AS juga dilaporkan telah menghabiskan sekitar 30 persen stok Tomahawk, lebih dari 20 persen JASSM, serta sekitar 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.
Meski Pentagon telah menandatangani sejumlah kontrak untuk meningkatkan produksi, para ahli menilai proses pengadaan membutuhkan waktu panjang, yakni tiga hingga lima tahun.
Situasi ini dinilai kontras dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut persenjataan negaranya masih dalam kondisi memadai.
“Kami memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas,” kata juru bicara Pentagon, Sean Parnell.
Dampak Bantuan Militer Global
CSIS juga mencatat bahwa penipisan stok tidak hanya dipicu perang dengan Iran, tetapi juga karena pengiriman bantuan militer ke sekutu seperti Israel dan Ukraina.
Kondisi ini semakin menekan cadangan amunisi strategis AS, yang sebelumnya sudah terbebani oleh berbagai komitmen global.
Kekhawatiran Meluas
Di tingkat politik, sejumlah anggota parlemen AS mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak penurunan stok amunisi terhadap keamanan nasional dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Senator AS, Mark Kelly, menilai kemampuan Iran dalam memproduksi drone dan rudal dalam jumlah besar dapat menjadi ancaman serius jika tidak diimbangi dengan kesiapan logistik AS.









