Poetic Justice

oleh -42 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti Sosial, Politik dan Militer

Anda mungkin sudah mendengar berita besar ini. Presiden Amerika Serikat dan istrinya terinfeksi virus Corona. Keadaan presiden Amerika ini membawa dampak yang sangat besar ke banyak hal — termasuk ke dunia internasional. Pasar saham di Asia langsung bereaksi negatif. Wall Street pun, yang akan dibuka beberapa jam lagi diramalkan akan negatif.

Keadaan tentu dirasakan di Amerika. Pemilihan Presiden akan dilangsungkan 31 hari lagi. Ini adalah saat-saat puncak kampanye. Kemudian, ada persoalan apakah presiden bisa melakukan tugas? Bagaimana dengan kode nuklir? Bagaimana dengan kampanye presiden kalau salah satu kandidatnya sakit? Bagaimana dengan negosiasi dengan Congress soal bantuan untuk warga yang terdampak virus Corona? Bagaimana dengan hakim agung di Mahkamah Agung yang rencananya akan dikonfirmasi oleh Republikan di Senat sekalipun ditentang keras oleh Demokrat?

Banyak hal terdampak oleh sakitnya Trump ini. Tidak heran, hampir semua media menyerukan supaya tidak panik.

Link Banner

Kemudian ada juga hal yang agak janggal. Ini terutama dalam hal simpati. Bagaimana menyatakan simpati kepada seorang yang sama sekali tidak pernah menyampaikan simpati? Kepada seorang yang sama sekali tidak punya empati? Kepada seorang yang hidupnya selalu mengglorifikasi kemenangan (winner) dan menghina mereka yang kalah (loser).

Baca Juga  Sepekan Operasi Patuh Kieraha 2020, Polres Kepulauan Sula Tindak 73 Pelanggar

Itu semua terpampang jelas saat debat Capres kemarin. Bagaimana Trump menghina Biden dalam banyak hal. Terutama soal ‘smart’ (kepintaran). Bagaimana mungkin seorang yang mengupah orang lain untuk mengerjakan tes SAT (tes untuk masuk ke universitas) mengklaim bahwa orang lain punya daya intelektual yang lebih rendah dari dirinya? Informasi bahwa Trump menyewa orang untuk mengerjakan tes SAT-nya itu datang dari adik perempuannya sendiri.

Namun yang paling penting dari debat kemarin adalah bahwa Trump mengejek Biden karena memakai selalu masker. Trump memang tidak pernah mengatakan dirinya anti-masker. Namun tingkahlakunya menunjukkan. Dia jarang memakai masker. Dia terus menerus melakukan kampanye yang dihadiri oleh pendukungnya yang tidak memakai masker dan berdesak-desakan. Demokrat mengecamnya sebagai kemunafikan. Karena Trump ada di panggung dan orang dilarang mendekat.

Yang paling penting dari semua ini adalah pengingkaran Trump terhadap virus Corona. Kepada jurnalis Bob Woodward pada bulan Februari lalu, dia memberitahu betapa seriusnya virus ini. Namun dia selalu mengabaikan betapa seriusnya ancaman virus ini. Satu saat dia bahkan menganjurkan untuk menyuntikkan pembasmi kuman atau desinfektan untuk membasmi virus ini.

Baca Juga  Pelopori pembentukan serentak, Pilar Polmas temui Walikota Ambon

Keantikan ini tentu tidak berhenti pada Trump belaka. Pengikutnya dengan setia membebek — dan bahkan membesar-besarkan — sikapnya yang meremehkan virus ini. Mereka membikin masker menjadi pernyataan politik. Pendukung Trump berarti anti-masker.

Sikap seperti ini tidak hanya bergema di Amerika. Namun juga di dunia internasional. Di Eropa, Asia, atau Latin Amerika, sikap anti-masker ini menjalar bersama dengan teori-teori konspirasi yang dibangun bersamanya. Kelompok-kelompok sayap kanan menggemakannya ke seluruh dunia.

Trump sekarang mengalami nasib sama dengan pemimpin dunia yang dari sejak awal meremehkan virus ini — seperti Jair Bolsonari dari Brasil dan Boris Johnson dari Inggris. Keduanya pernah terinfeksi dan politiknya hampir mirip dengan Trump. Boris Johnson agak menjauh dari Trump setelah masuk rumah sakit karena Corona.

Apa yang terjadi pada Trump ini adalah semacam ‘poetic justice.’ Setahu saya ini adalah istilah yang umum dipakai dalam kritik sastra. Konsepnya adalah Anda mendapatkan akibat dari apa yang Anda kotbahkan, kerjakan, atau harapkan.

Istilah lain untuk menggambarkan ini adalah ‘instant karma’ atau karma yang terjadi secara instan. Karma adalah konsep dimana kelakukan Anda semasa hidup akan berakibat pada hidup Anda sesudah bereinkarnasi. Instant karma tidak perlu menunggu hingga saat kematian. Karmanya berbuah bahkan saat dia masih hidup.

Baca Juga  Kapolres Buru Berikan Cinderamata Kepada Pangdam XVI Pattimura

Sulit untuk tidak menarik nafas lega atas apa yang menimpa Trump ini. Tentu ini adalah tragedi untuk Trump sebagai manusia. Sebagai orang beradab, kita diwajibkan bersimpati pada orang yang mengalami kemalangan. Sekalipun orang itu tidak hidup dalam dunia dengan standar yang sama dengan kita.

Namun tingkahlaku Trump dan kebijakan yang dia keluarkan, sikapnya yang meremehkan dan antagonisme yang dia perlihatkan pada para ahli kesehatan yang membantunya, tidak hanya berhenti pada Trump. Seperti yang saya sebutkan di atas, semuanya itu bergema di antara pendukungnya. Bahkan diikuti oleh orang-orang yang jauh dari Amerika — sadar atau tidak.

Dewi Keadilan rupanya bertindak tanpa diperintah. Salah satu problem besar dalam kesehatan publik paling tidak untuk sementara sudah bisa diselesaikan. Ya, Trump adalah masalah untuk kesehatan publik itu. Bukan solusi. (*)