Oleh: Made Supriatma, Peneliti Sosial, Politik dan Militer
Anda mungkin sudah mendengar berita besar ini. Presiden Amerika Serikat dan istrinya terinfeksi virus Corona. Keadaan presiden Amerika ini membawa dampak yang sangat besar ke banyak hal — termasuk ke dunia internasional. Pasar saham di Asia langsung bereaksi negatif. Wall Street pun, yang akan dibuka beberapa jam lagi diramalkan akan negatif.
Keadaan tentu dirasakan di Amerika. Pemilihan Presiden akan dilangsungkan 31 hari lagi. Ini adalah saat-saat puncak kampanye. Kemudian, ada persoalan apakah presiden bisa melakukan tugas? Bagaimana dengan kode nuklir? Bagaimana dengan kampanye presiden kalau salah satu kandidatnya sakit? Bagaimana dengan negosiasi dengan Congress soal bantuan untuk warga yang terdampak virus Corona? Bagaimana dengan hakim agung di Mahkamah Agung yang rencananya akan dikonfirmasi oleh Republikan di Senat sekalipun ditentang keras oleh Demokrat?
Banyak hal terdampak oleh sakitnya Trump ini. Tidak heran, hampir semua media menyerukan supaya tidak panik.
Kemudian ada juga hal yang agak janggal. Ini terutama dalam hal simpati. Bagaimana menyatakan simpati kepada seorang yang sama sekali tidak pernah menyampaikan simpati? Kepada seorang yang sama sekali tidak punya empati? Kepada seorang yang hidupnya selalu mengglorifikasi kemenangan (winner) dan menghina mereka yang kalah (loser).




