Oleh: Lukas Luwarso, Jurnalis Senior, Kolumnis
Apa problem besar yang membebani Indonesia akhir-akhir ini? Defisit ekonomi, kenaikan harga minyak, korupsi, siswa keracunan MBG, atau presiden yang suka ngelencer ke luar negeri? Bukan. Problem terbesar adalah inflasi pengamat. “Sekarang ini ada satu fenomena, apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat,” kata Letkol TNI Teddy Indra Wijaya, sekretaris kabinet, sosok super-menteri, yang kini merangkap sebagai pengamatnya pengamat.
Di era pemerintahan Jokowi ada sosok super-menteri, yang selalu memberi komentar. Selalu ada dalam hampir setiap program dan proyek pemerintah, populer dengan julukan Lord Luhut. Di era Prabowo sosok super itu dijuluki First Teddy. Ia selalu hadir di sisi Presiden Prabowo dalam setiap kesempatan dan kesempitan. Ke mana presiden pergi, di situ ada Teddy. Dari rapat kabinet, kunjungan luar negeri, hingga foto di posko pengungsi. Teddy selalu standby.
Julukan “The First Teddy” muncul karena kedekatan personalnya dengan Presiden Prabowo yang situasinya nir-first-lady. Belum pernah ada preseden dalam sejarah pemerintahan di Indonesia Sekretaris Kabinet begitu dekat, secara personal, dengan presiden. Dari Iwa Koesoemasoemantri, Seskab Presiden Soekarno; Sudharmono -Moerdiono era Soeharto; hingga Sudi Silalahi – Dipo Alam era Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan Pramono Anung di era Jokowi. Mereka, beda dengan Teddy, adalah pejabat Seskab yang bertanggung jawab memastikan berjalannya pembagian tugas kerja-keria kabinet.









