Teddy mustinya bisa menjadi “brand ambassador” suksesnya program efisiensi pemerintah, satu orang merangkap banyak peran. Kalau saja kabinet Prabowo tidak terlalu gemuk. Satu Teddy sebenarnya bisa menangani banyak hal. Efisiensi seorang Teddy menjadi kurang optimal, jika Prabowo masih mempertahankan kabinet 100 Menteri. Inflasi menteri jadi merepotkan Teddy, sebagaimana inflasi pengamat.
Dalam komunikasi politik, ada istilah buffer(penyangga). Merujuk pada peran, individu, atau mekanisme yang berfungsi untuk meredam tekanan, melindungi aktor politik utama, atau menjadi perantara antara elit politik dan publik. Buffer bertindak sebagai “tameng” agar citra aktor politik tetap terjaga. Teddy adalah buffer Presiden Prabowo untuk mengelola persepsi politik. Namun Teddy melampaui sekadar fungsi buffer; ia menjadi partner. Sekaligus tameng, atau decoy pengalih sasaran. Ketika publik sibuk mempersoalkan pernyataan Teddy, dan gaya komunikasinya, energi kritik terhadap Prabowo otomatis teralihkan ke dia.
Namun yang subtil adalah soal personalisasi pemerintahan (kekuasaan). Pengelolaan pemerintahan semakin kental bernuansa personal–bukan institusional. Presiden menunjuk orang-orang terdekat, dengan mengabaikan kompetensi dan meritokrasi. Penunjukkan berbasis kenyamanan dan kebahagiaan hati.








