Politik Figur dan Demokrasi yang Tak Pernah Dewasa

oleh -110 views

Fenomena ini sesungguhnya bukan semata tentang seorang tokoh. Ia adalah cermin dari cara kita memandang politik. Kita terlalu mudah terpesona oleh figur yang tampak merakyat, sementara pertanyaan yang jauh lebih penting sering luput diajukan: apa visi yang ditawarkan, bagaimana kapasitasnya memimpin negara, sejauh mana integritasnya teruji, dan apakah ia memiliki keberanian memperkuat institusi demokrasi, bukan sekadar memperkuat dirinya sendiri?

Reformasi telah memberi Indonesia kebebasan memilih pemimpin. Namun kebebasan memilih belum selalu diikuti oleh kedewasaan dalam menilai pemimpin. Kita masih terlalu sering menimbang seseorang dari kedekatan emosional yang dibangunnya, bukan dari mutu gagasan dan kebijakan yang ditawarkannya. Akibatnya, pergantian pemimpin tidak selalu diikuti oleh perubahan cara bernegara.

Baca Juga  Kolly: Sengketa Tapal Batas SBB–Malteng Sudah Tamat, Kemendagri Putuskan Sejak 2016

Di sinilah persoalan terbesar demokrasi kita. Di mana yang berganti sering kali hanyalah nama dan wajah. Cara kita mengagumi pemimpin tetap sama. Kita terus mencari seorang penyelamat, padahal demokrasi tidak pernah dirancang untuk bergantung pada satu orang. Demokrasi hanya akan menjadi dewasa apabila rakyat menempatkan gagasan di atas pesona, institusi di atas individu, dan akal sehat di atas kekaguman.

No More Posts Available.

No more pages to load.