Saat melakukan penelitian, saya mendengar kabar, seorang pensiunan jendral polisi mengatur dan membeayai operasi politik ini. Sampai sekarang saya belum jelas tentang siapa yang membeayai operasi KTP ini.
Pasangan Bajo ini didukung oleh sebuah organisasi yang relatif tidak dikenal bernama Tikus Pithi Hanata Baris. Organisasi ini yang kabarnya menjalankan operasi KTP tersebut. Begitu selesai Pilwakot, organisasi ini menghilang begitu saja.
Ketuanya, Tuntas Subagyo, juga bukan orang tanpa masalah. Ia terlibat dalam beberapa skandal keuangan.
Pilwakot Solo menjadi justifikasi bagi Gibran bahwa ia telah melakukan prosedur politik yang sah. Ketika ditanya soal koneksinya ke bapaknya yang adalah presiden, Gibran selalu berkilah, “Biar masyarakat yang menentukan.”
Benar bahwa masyarakat menentukan. Namun, ia lupa bahwa kalau lawannya adalah sekelas ayam sayur, tentu saja ia bisa menang.
Pemilihan walikot Solo tahun 2020 adalah awal dari apa yang kita alami sekarang. Para elit berpura-pura mengikuti prosedur — prosedur yang sudah mereka bengkokkan sebelumnya. Tentu saja hasilnya seperti yang mereka inginkan.
Ini persis seperti “sepak bola gajah,” sebuah metafora dari jaman Orde Baru. Sepak bola gajah adalah permainan sepak bola oleh gajah yang skor-nya sudah diarahkan oleh pawangnya. Di jaman Orba, metafora ini juga dipakai untuk pertandingan sepak bola yang skor-nya sudah diatur bandar-bandar judi.











