Enam tikus tanpa kepala dikirim ke media, sebenarnya tinggal dibuang saja. Tetapi aromanya masih terasa yaitu bau anyir banyak tikus. Ya kemungkinan terkuat pengirim itu adalah poli tikus. Repons Istana yang sinis saat kiriman kepala babi, menimbulkan kecurigaan. Sepertinya Istana memang pro pengirim.
Politikus di negeri ini, meski tentu tidak semua, menjadi bagian dari kekuasaan oligarki terutama ketum dan petinggi partai politik yang menjadi koalisi pemerintahan. Koalisi itu membangun oligarki. Partai politik sebagai elemen demokrasi nyatanya mempratekkan kepemimpinan yang tidak demokratis, ketum-krasi. Akibatnya partai politik menjadi entitas penginjak-injak demokrasi.
Politikus tanpa kepala merupakan sinyal bahwa politisi sudah kehilangan akal sehat dan idealisme untuk membangun rakyat yang kuat. Sebaliknya tikus-tikus itu nyaman memeras dan menindas rakyat, tidak peduli pada jeritan kepedihan hidup, memperkaya diri, korup, dan menjadikan politik hanya sebagai ajang bisnis atau transaksi pragmatis.
Politikus tanpa kepala adalah politisi berbadan busuk yang menjadikan legislatif sebagai pengekor kemauan kepala eksekutif, pengawas palsu, serta pejuang kepentingan instansional yang berbalas jasa. Berbaju dasi, banyak basa basi, galak di ruang komisi tapi berujung negosiasi melalui kerja fraksi. Oligarki yang sedang bersandiwara tentang demokrasi.








