Postscriptum Branding Ternate: Ketika Kota Rempah Harus Berbuah

oleh -23 views

Karena itu, bahasa pembangunan yang menempatkan alam hanya sebagai sumber daya ekonomi, berisiko melahirkan pembenaran terhadap eksploitasi. Krisis ekologis kemudian dianggap sebagai harga yang wajar dari pembangunan.

Ternate tidak boleh jatuh ke dalam paradoks semacam itu.

Sebab Kota Rempah tanpa ekologi adalah kontradiksi. Rempah tidak mungkin dipisahkan dari lanskap alam yang melahirkannya.

Identitas kota juga tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh hubungan sebab-akibat yang saling terkait: antara lokal dan nasional, antara kepentingan regional dan dinamika global, antara ekonomi dan ekologi, antara sejarah dan masa depan.

Dalam konteks itu, Ternate memang memiliki modal sejarah yang luar biasa. Tetapi modal sejarah tidak otomatis menjadi modal ekonomi. Ia harus diolah melalui kebijakan yang terstruktur dan terintegrasi.

Baca Juga  Fungsi Regulasi yang Ditelantarkan

Ketika Birokrasi Harus Berubah

Karena itu, birokrasi Ternate membutuhkan transformasi.

Bukan sekadar berbenah dalam pengertian administratif, tetapi transformasi yang menyentuh cara birokrasi merancang program, mengelola sumber daya, membangun kolaborasi, mengukur keberhasilan, dan memastikan manfaat pembangunan sampai kepada warga.

Transformasi birokrasi adalah fondasi akselerasi city branding Ternate sebagai Kota Rempah.

No More Posts Available.

No more pages to load.