Postscriptum Branding Ternate: Ketika Kota Rempah Harus Berbuah

oleh -476 views

Jika jawabannya belum, maka kita masih berada di ruang narasi.

Rempah dan Paradoks Ekologi

Sebagaimana produk, jasa, dan ekosistem birokrasi, sebuah kota membutuhkan penanda dan reputasi yang kuat serta berbeda untuk meningkatkan daya saing. Ternate harus mampu menjadi penghela sumber daya ekonomi—lokal, regional, nasional, bahkan global.

Tetapi city branding Ternate juga tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menjaga alam.

Bukankah dari alam itulah kebutuhan manusia dipenuhi?

Lalu bagaimana mungkin narasi Kota Rempah hanya dibingkai sebagai strategi promosi pariwisata, sementara pada saat yang sama kawasan resapan air dibiarkan terdegradasi? Bagaimana mungkin kita terus bernostalgia tentang kejayaan Jalur Rempah, sementara hutan dan ekosistem yang menjadi rumah bagi tanaman rempah justru terdesak oleh pembangunan?

Baca Juga  Vinicius Junior Bertahan di Real Madrid hingga 2032

Kita kadang bertindak seolah-olah rempah tumbuh di langit.

Padahal cengkih dan pala tumbuh dari tanah, membutuhkan air, membutuhkan hutan, membutuhkan iklim yang sehat, dan membutuhkan petani yang memperoleh kepastian hidup.

Di sinilah narasi pembangunan perlu diuji.

Arran Stibbe, profesor ekolinguistik, menjelaskan bahwa bahasa dapat memengaruhi cara manusia memahami krisis lingkungan: apakah ia dianggap sebagai persoalan teknis, urusan ekonomi, atau sesuatu yang sekadar menjadi konsekuensi pembangunan. Narasi yang dominan, apabila terus diulang, pada akhirnya membentuk cara manusia memperlakukan alam.

No More Posts Available.

No more pages to load.