Inilah yang bisa disebut sebagai “normal baru” yang regresif.
Idul Fitri seharusnya menjadi momen refleksi, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi negara. Ia mengajarkan kejujuran, evaluasi diri, dan pembaruan komitmen. Dalam konteks ini, kehadiran negara memang patut diapresiasi, tetapi tidak boleh menghentikan ruang kritik.
Peran Muzakir Manaf menunjukkan pentingnya jembatan antara negara dan rakyat melalui pendekatan kultural. Namun pekerjaan besar tetap berada pada ranah kebijakan yang konkret dan berkelanjutan.
Jika Panadol adalah tahap awal, maka yang dibutuhkan berikutnya adalah terapi yang lebih mendasar: kejujuran dalam laporan, ketepatan dalam kebijakan, dan keberanian untuk mengakui bahwa pemulihan belum selesai.
Aceh tidak membutuhkan sekadar rasa lega. Aceh membutuhkan kebenaran yang utuh—sebagai dasar dari tindakan yang tepat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana: apakah kita akan puas dengan laporan yang menyenangkan, atau berani menghadapi kenyataan untuk benar-benar menyembuhkan?
Karena dalam kebijakan publik, seperti dalam kehidupan, kejujuran adalah syarat utama bagi pemulihan yang sesungguhnya. (**)








