Manusia, dengan demikian, adalah makhluk yang memikul potensi ganda: menjadi hamba yang taat atau pembangkang.
Sufi besar, Syaikh Abu Yazid al-Busthami, pernah menjelaskan bahwa penciptaan makhluk adalah manifestasi sifat-sifat Allah: kekuasaan-Nya, kemurahan-Nya, keperkasaan-Nya, hingga keadilan-Nya. Hidup, mati, rezeki, pahala, dan siksa—semuanya adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Filsuf Muslim Murtadha Muthahhari dalam Manusia dan Alam Semesta menegaskan bahwa untuk memahami asal-usul dan tujuan hidup, manusia harus merenungkan ajaran Al-Qur’an tentang kehidupan setelah mati. Allah adalah titik awal sekaligus titik akhir dari segala yang ada. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin.” (QS. Al-Hadid: 3).
Tafakur sebagai Jalan Kesadaran
Ibnu Abbas meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah.” Tafakur, dengan demikian, adalah perenungan atas ciptaan dan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa objek tafakur meliputi diri sendiri dan seluruh alam semesta. Tafakur adalah upaya menyadari nikmat, kekuasaan, dan keluasan ilmu Allah.
“Ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).









