Puasa dan Tafakur

oleh -697 views

Manusia, dengan demikian, adalah makhluk yang memikul potensi ganda: menjadi hamba yang taat atau pembangkang.

Sufi besar, Syaikh Abu Yazid al-Busthami, pernah menjelaskan bahwa penciptaan makhluk adalah manifestasi sifat-sifat Allah: kekuasaan-Nya, kemurahan-Nya, keperkasaan-Nya, hingga keadilan-Nya. Hidup, mati, rezeki, pahala, dan siksa—semuanya adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Filsuf Muslim Murtadha Muthahhari dalam Manusia dan Alam Semesta menegaskan bahwa untuk memahami asal-usul dan tujuan hidup, manusia harus merenungkan ajaran Al-Qur’an tentang kehidupan setelah mati. Allah adalah titik awal sekaligus titik akhir dari segala yang ada. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin.” (QS. Al-Hadid: 3).

Tafakur sebagai Jalan Kesadaran

Ibnu Abbas meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah.” Tafakur, dengan demikian, adalah perenungan atas ciptaan dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa objek tafakur meliputi diri sendiri dan seluruh alam semesta. Tafakur adalah upaya menyadari nikmat, kekuasaan, dan keluasan ilmu Allah.

Baca Juga  Wali Kota Ternate Sampaikan LPP APBD 2025, Raih WTP ke-12 dan Dorong Penguatan Fiskal Daerah

“Ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

No More Posts Available.

No more pages to load.