“Tahun ini kutambah satu kardus deh, kalau untuk beli bakpia saja masih bisalah ambil sedikit laba dari toko buku bekasku.”
Kutatap mata teduhnya yang cekung itu. “Kamu itu memang selalu berusaha jadi penyenang orang lain atau gimana? Apa masih ada pembeli buku bekas sekarang ini? Di saat buku baru dijual lima ribuan daripada dilebur dan tulisan dengan mudah dikirim dalam bentuk digital?”
“Ah, soal itu tak usah kaupikirkan, Sasmita.” Tonang memiringkan kepalanya dan memandangiku dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya mengulang pertanyaan yang pernah ditanyakannya padaku.
“Kau jelas berusia menjelang tiga puluh lima, benar kan?”
“Aduh, Tonang, hobi banget bikin kesimpulan. Bukan gitu cara menanyakan umur seorang perempuan,” kupelototi Tonang yang malah tertawa melihatku melebarkan mata.
“Lalu bagaimana caranya? Ada gitu aturannya?”
Dengan suara lantang melawan bisingnya suara kendaraan dari luar kafe, kujelaskan pada Tonang tentang betapa pantangnya menebak umur, berat badan, dan ukuran fisik lain pada perempuan. Oh Tonang, sudah pernah menikah kok masih polos, pikirku.
Tak kusangka pembicaraan soal umurku ini karena ia mengira usiaku sama dengan usia istrinya saat meninggal. Topik yang kuhindari, mengingat masih melingkarnya cicin pernikahan di jari manisnya.










