Pulang

oleh -1,081 views

“Ya, kau tak perlu bertanya tentangnya. Dengan sukarela aku akan menceritakannya padamu. Ia meninggal karena TB Paru, penyakit itu menggerogoti paru-parunya selama satu tahun.”

“Tapi Tonang, bukankah TB Paru mudah sembuh? Ibuku didiagnosa TB Paru, seminggu yang lalu Ibu mengabariku. Katanya, hanya harus minum obat rutin dan dipantau Puskesmas.”

“Tidak semua bakteri TB mudah ditaklukkan, Samita. Istriku dulu resistan pada antibiotiknya. Lalu salahku, mencoba pengobatan alternatif seperti saran keluarga dan menghentikan pengobatan rutin supaya ginjalnya tidak kelebihan beban kerja, menuruti pesan tabib. Mungkin karena salahkulah istriku meninggal. Tapi pengetahuan seperti ini baru kudapat belakangan. Terlambat.”

Untuk pertama kalinya kulihat Tonang menunjukkan duka di wajahnya. Sorot matanya bukan lagi teduh namun menjadi sayu. Kuberanikan diri memegang pundaknya. “Tonang, aku turut berduka. Baru kali ini aku mendengar kisah tentang istrimu. Baru kali ini kau menunjukkan dukamu padaku. Sungguh ingin aku bertanya lebih jauh soal penyakit perenggut kekasih hatimu, tapi aku tak akan tega memintamu bercerita lebih jauh.”

Tonang menengadahkan wajahnya, menatapku dengan tatapan sendu penuh harap, yang selama ini kuhindari dari mata setiap pria.

No More Posts Available.

No more pages to load.