Pulau Hiri Menyimpan Sejarah

oleh -73 views
Link Banner

Oleh: Ahmad Ibrahim, Wartawan Senior

LETAKNYA di sebelah utara Kota Ternate, Pulau Hiri memiliki banyak daya tarik sejarah dan juga sebagai objek wisata pantai dengan panorama gunung dan laut yang eksotik.

Bagi yang ingin berkunjung ke pulau ini cukup 10 menit menaiki perahu kayu dari Pantai Sulamadaha atau Pantai Jikomalamo sudah bisa tiba di Pulau Hiri.

Seharian kemarin saya memang mendatangi pulau ini. Selain berziarah ke makam Alhabib Said Thaha Bin Muhammad Bin Abdurrahman Hasyim Albaar, juga mendatangi beberapa tempat wisata seperti Batu Lobang dan homestay.

Dari segi kesiapan untuk pemberdayaan objek wisata memang belum banyak mendukung. Terutama dari segi infrastruktur. Yang baru terlihat hidup hanyalah beberapa homestay.

Salah satu homestay yang saya datangi adalah Hiri Homestay milik Abdul Kadir Rakib. Di tempat ini sambil menikmati suasana laut kita juga bisa menatap dari dekat ikan-ikan hiu.

Abdul Kadir yang tidak lain sebagai Kepala Kelurahan Mado, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, itu juga bertindak sebagai “pawang” ikan hiu.

Dari tangannya makhluk laut yang umum dikenal dengan nama “ikan gorango” itu bisa dengan mudah kita menatap dari atas permukaan air laut.

Baca Juga  Tanjung Bongo dan Pemberdayaan Pariwisata

Selain sebagai objek wisata, Pulau Hiri menyimpan banyak cerita sejarah. Inilah pulau yang pada masa Kesultanan Ternate dulu menjadi salah satu pusat pertahanan saat menghadapi penjajah Portugis, Spanyol, Belanda dan Jepang.

“Pasukan-pasukan elite Kesultanan Ternate ditempatkan di Pulau Hiri. Letaknya strategis dan menjadi pintu masuk ke Ternate, pulau ini menjadi saksi sejarah sebagai benteng pertahanan kesultanan menghadapi invasi para penjajah,” ujar Kepala Kelurahan Mado Abdul Kadir.

Letaknya di bibir pantai selain bisa menikmati pemandangan laut yang indah dari Pulau Hiri kita juga bisa menatap panorama Gunung Gamalama, Gunung Gamkonora, dan Pulau Halmahera nan panjang membentang itu.

Pun aktivitas aneka kapal motor, perahu nelayan, dan warga yang dengan ramah mereka melakukan aktivitas antardermaga di Pulau Hiri dan Jikomalamo di Pulau Ternate.

Pulau Hiri menjadi objek sejarah karena di tempat inilah ada seorang tokoh agama yang dikenal sebagai Waliyullah Alhabib Said Thaha Bin Muhammad Bin Abdurrahman Hasyim Albaar yang kerab dipanggil Tuan Hiri.

Baca Juga  Kades Auponhia dan Dirut CV Sula Maju Jaya Diduga Sekongkol Tipu Warga

Almarhum sangat dihormati dan makamnya menjadi objek kunjungan sejarah dari berbagai lapisan masyarakat hingga pejabat.

Pulau ini dikunjungi tidak saja oleh wisatawan lokal tapi juga wisatawan nusantara. “Dari Jakarta bahkan Bali mereka datang berkunjung,” ujarnya.

Pada masa pendudukan Jepang, Pulau Hiri menjadi tempat penyelamatan Sultan Ternate Muhammad Djabir Syah dari serangan Jepang.

Sosok di balik penyelamatan sang sultan di Pulau Hiri itu tidak lain adalah guru saya almarhum Ustad Ali Amal Tomagola.

Ustad Ali Amal di masa muda telah memanggul senjata melawan penjajah fasis Jepang 1942.

Bergabung dengan tentara Sekutu Pimpinan Jenderal MacArthur yang berpangkalan di Morotai, guru saya ini memimpin pasukan khusus terdiri atas berbagai suku dari Galela, Loloda, Ternate, dan Hiri dibantu tiga serdadu Australia berhasil menyelamatkan Sultan Muhammad Djabir Syah dan keluarga dari rencana pembantaian oleh Kempetai Jepang.

Seluruh keluarga Sultan Ternate berhasil dilarikan ke Pulau Hiri sesudah melalui pertempuran sengit di Batu Angus.

Banyak korban di pihak Jepang sedangkan dua serdadu Australia dan beberapa orang Hiri tewas saat pertempuran laut antara Batu Angus dan Pulau Hiri.

Baca Juga  Bobol sekolah, 6 pelaku diamankan Polisi

Keluarga Sultan Muhammad Djabir Syah, termasuk almarhum Sultan Mudhaffar Syah yang masih balita saat itu berhasil dilarikan dengan speed-boat Sekutu ke Pangkalan Udara Perang Dunia II di Morotai untuk selanjutnya diterbangkan ke Darwin, Australia Utara.

Setelah operasi penyelamatan itu, guru saya yang juga ayah Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Prof DR Thamrin Amal Tomagola ini aktif mengembangkan dunia pendidikan melalui lembaga pendidikan Muhammadiyah bersama ayahnya Ustad Muhammad Amal Tomagola yang telah didirikan sejak tahun 1924 di Kecamatan Galela bernama Wustha Muallimin Muhammadiyah, itu.

Melalui potensi wisata pantai dan laut, Pulau Hiri tentu harus lebih hidup karena di pulau inilah sejarah mencatat sebagai pusat perlawanan spektakuler oleh pasukan elite Kesultanan Ternate menghadapi hegemoni penjajah.

Dan, makam Waliyullah Alhabib Said Thaha Bin Muhammad Bin Abdurrahman Hasyim Albaar yang bergelar Tuan Hiri itu tentu juga bisa menjadi objek wisata religi yang sangat berharga dan bisa menjadi daya tarik bagi para pengunjung. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.