Sosok di balik penyelamatan sang sultan di Pulau Hiri itu tidak lain adalah guru saya almarhum Ustad Ali Amal Tomagola.
Ustad Ali Amal di masa muda telah memanggul senjata melawan penjajah fasis Jepang 1942.
Bergabung dengan tentara Sekutu Pimpinan Jenderal MacArthur yang berpangkalan di Morotai, guru saya ini memimpin pasukan khusus terdiri atas berbagai suku dari Galela, Loloda, Ternate, dan Hiri dibantu tiga serdadu Australia berhasil menyelamatkan Sultan Muhammad Djabir Syah dan keluarga dari rencana pembantaian oleh Kempetai Jepang.
Seluruh keluarga Sultan Ternate berhasil dilarikan ke Pulau Hiri sesudah melalui pertempuran sengit di Batu Angus.
Banyak korban di pihak Jepang sedangkan dua serdadu Australia dan beberapa orang Hiri tewas saat pertempuran laut antara Batu Angus dan Pulau Hiri.
Keluarga Sultan Muhammad Djabir Syah, termasuk almarhum Sultan Mudhaffar Syah yang masih balita saat itu berhasil dilarikan dengan speed-boat Sekutu ke Pangkalan Udara Perang Dunia II di Morotai untuk selanjutnya diterbangkan ke Darwin, Australia Utara.
Setelah operasi penyelamatan itu, guru saya yang juga ayah Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Prof DR Thamrin Amal Tomagola ini aktif mengembangkan dunia pendidikan melalui lembaga pendidikan Muhammadiyah bersama ayahnya Ustad Muhammad Amal Tomagola yang telah didirikan sejak tahun 1924 di Kecamatan Galela bernama Wustha Muallimin Muhammadiyah, itu.








