Puluhan Tahun Terisolasi, Warga Ahiolo dan Watui Masih Andalkan Rakit Bambu Angkut Hasil Kebun

oleh -5 views
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga Desa Ahiolo dan Desa Watui, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih bergelut dengan keterisolasian. Hingga kini, mereka tetap mengandalkan rakit bambu untuk mengangkut hasil pertanian menyusuri sungai selama berjam-jam demi menjangkau pasar.

Porostimur.com, Piru – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga Desa Ahiolo dan Desa Watui, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih bergelut dengan keterisolasian. Hingga kini, mereka tetap mengandalkan rakit bambu untuk mengangkut hasil pertanian menyusuri sungai selama berjam-jam demi menjangkau pasar.

Bagi masyarakat di dua desa tersebut, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Setiap perjalanan membawa hasil kebun menjadi perjuangan tersendiri, karena warga harus mengarungi aliran sungai dengan rakit sederhana sambil mempertaruhkan keselamatan.

Warga Desa Ahiolo, Apsa Waikuty, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan hingga kini belum banyak berubah.

Baca Juga  Puluhan Ton Tanah Diduga Ilegal Dimuat di Dermaga Kupal

“Setiap hari warga harus menempuh perjalanan melalui sungai sekitar tiga sampai lima jam untuk membawa hasil pertanian agar bisa dijual ke berbagai tempat,” ujarnya.

Menurut Apsa, komoditas unggulan seperti kelapa, cengkih, pala, dan berbagai hasil kebun lainnya harus diangkut melalui jalur sungai sebelum dipasarkan ke Kairatu, Piru, bahkan hingga Kota Ambon.

Infrastruktur Terbatas Hambat Ekonomi Warga

Keterbatasan akses transportasi membuat masyarakat harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya lebih besar dibandingkan daerah yang telah memiliki jaringan jalan memadai.

No More Posts Available.

No more pages to load.