Sesampainya di lokasi, mereka menggelar mimbar bebas dan menyampaikan orasi secara bergantian meski hujan mengguyur kawasan tersebut sejak sore hingga malam hari.
Sebelum beristirahat, para pedagang juga menggelar ibadah bersama yang dipimpin Pastor Herry.
Selain menuntut pemenuhan hak ekonomi, massa turut menyuarakan penolakan terhadap proyek strategis nasional (PSN) dan praktik militerisme di Tanah Papua yang dinilai mengabaikan hak-hak masyarakat adat.
Nilai Program Bantuan Belum Tepat Sasaran
Ketua Pasar Pedagang Mama-mama Papua Kota Sorong (P2MP-KS), Levina Duwit, mengatakan sudah lebih dari satu tahun sejak Gubernur Elisa Kambu menyampaikan komitmen memberikan bantuan modal usaha dan membangun pasar khusus bagi pedagang mama-mama Papua dalam dialog pada 25 April 2025.
Menurut Levina, pemerintah memang telah menyalurkan hibah modal usaha pada Desember 2025 dan Januari 2026 serta membangun sejumlah fasilitas pasar. Namun, pelaksanaannya dinilai belum menjawab kebutuhan para pedagang.
“Program bantuan modal senilai Rp10,125 miliar akhir tahun lalu itu tidak tepat sasaran karena dinas terkait minim melibatkan kami. Dari ribuan penerima, hanya 494 pedagang mama-mama Papua sah yang masuk data, sisanya tidak jelas. Pembangunan pasar baru pun tanpa koordinasi, jadi fasilitasnya tidak sesuai dengan kebutuhan kami berjualan sehari-hari,” kata Levina.






