“Saya pun kembali ke rumah sakit kedua supaya bisa di-rontgen saja. Selanjutnya saya menjalani pengobatan kampung di rumah bersamaan, namun sesekali ke rumah sakit untuk rontgen,” jelasnya.
Upah Rp150-250 Ribu Jadi Alasan Porter Berpacu
Di balik aksi berbahaya tersebut, Saleh menyebut ada persoalan ekonomi yang membuat dirinya dan ratusan porter lainnya harus berpacu setiap kali kapal tiba.
Menurutnya, penghasilan porter sangat bergantung pada seberapa banyak barang penumpang yang berhasil mereka dapatkan untuk dipikul.
Jika sedang mendapat rezeki, seorang porter bisa membawa pulang Rp150 ribu hingga Rp250 ribu dalam sehari. Namun, tidak jarang mereka pulang tanpa membawa penghasilan.
“Kalau rezeki bagus uang hasil pikul barang penumpang bisa bawa pulang ke rumah Rp150-250 ribu, namun ada juga yang tidak bawa uang sama sekali,” paparnya.
Kondisi itulah yang membuat para porter berlomba menjadi yang pertama naik ke kapal.
“Makanya berebutan naik ke atas kapal lebih cepat itu paling sering sehingga bisa dapat pikul barang bawaan penumpang. Harapannya uang bisa dipakai nafkahi anak dan istri,” tambahnya.
Bagi Saleh, pekerjaan sebagai porter merupakan jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Risiko yang dihadapi di pelabuhan harus berhadapan dengan kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan.









